Jumat, 19 Februari 2010

Samarinda oh Samarinda.... Malang nian nasibmu..... Malang aja g "malang2" amat....




MALANG-PASURUAN-BLITAR GELAP GEMPITA. Arrester (Penangkal petir) pecah kmaren malam, Humas PLN g tau knapa.... matix cuma 4 dan 2 jam per malam..... Sekarang masi dikoordinasikan perbaikan dengan pihak PLN Jawa-Bali.

Bagaimana dengan Samarinda????

Samarinda: Dengan jatah pemadaman per-region yang ditetukan PLN setempat sekitar 2-3x seminggu.... kalo beruntung cuma sekali, tapi g mgkin g mati sama sekali dalam seminggu.... Hal ini disebabkan mesin2 PLN yang sudah tua. Dahulu kala di tahun 200X (maap lupa) Wali Kota Achmad Amins mengajukan usulan penarikan pajak ekstra terhadap warga Samarinda untuk menuntaskan masalah ini. Namun hal ini menimbulkan polemik yang akhirnya tidak disetujui mayoritas. Sehingga mesin2 tua tidak diganti, yang berarti kekuatannya defisit jika dibandingkan kebutuhan listrik Samarinda. Konsekuensi ini makin diperparah dengan adanya KORUPSI anggaran PLN sekitar 4 Miliar rupiah yang pada tahun 2006 marak dibicarakan.....

*Dan ternyata hal ini juga melanda beberapa daerah lain di Kaltim seperti penuturan teman saya Wahyu Dharma: "Balikpapan juga cil"..... Dan mungkin masi banyak lainnya dengan faktor permasalahan masing2 daerah. Ironisnya, Kaltim sebagai provinsi yang kaya SDA dan APBD,,,, kok bisa-bisanya belum menuntaskan masalah listrik yang jelas2 menguasai hajat hidup orang banyak???

Wew, bisa dibilang postingan kali ini murni Karya improvisasi yang timbul setelah listrikpadam malam ini. Cuma nostalgia saja, membandingkan dengan kondisi Tenaga listrik di kampung halaman saya yang menyedihkan.... Apalagi bandingannya g cuma kebutuhan listrik yang lumpuh,,, tapi kondisi geografis malang yang sejuk, jarang nyamuk (di lingkungan yang kondusif), dsb. dibandingkan dengan Samarinda yang panas, banyak nyamuk, dan kerap terjadi kebakaran tiap kali pemadaman listrik akibat korsleting. Kualitas tempat tinggal di sana juga jauh lebih rendah karena tata kota yang amburadul yang menjadi pemicu kebakaran berentetan, banjir, dsb. Parah jua pinanya kupikir2 Samarinda ni lah, kena kada bulik lagi aq,,, uyuh!!!!!....

Komentar seorang teman saya lewat facebook yang luar biasa!!!! 

"itudah cil,kalo km bilang samarinda amburadul,itu saatx km berbuat dan tidak hanya berkomentar,sejelek2x kota samarinda km pernah ngenyam pendidikan disini,jd jgn jd kacang lupa kulitx,tulisan diblogmu agak mengecewakan cil,"
Saya sengaja g menghapus tulisan aslinya untuk dijadikan referensi dan evaluasi buat blog saya. Jujur, g ada manusia yang sempurna dan saya juga manusia. Postingan ini adalah nostalgia kekecewaan saya yang sesaat teringat saat lampu padam di Malang..... Maapkan saya jika ada yang kurang berkenan,,, dan saya akui ini kesalahan saya yang MENGUTAMAKAN EMOSI ketimbang PENCARIAN SOLUSI..... Terima kasih temanku!!!! (sengaja g mau cantumin namanya takut tanpa persetujuan orangnya)
Sejenak saat chatting dengan kawanku lainnya untuk meminta saran, dalam hatiku terbesit: "Aq lahir di Samarinda,, sekolah di Samarinda,,, ad masalah masa' cuma bsa ngritik??? solusix ap...."
Kemudian aku tanya sama dia: "Kalo g ngasi solusi menurutmu boleh kritik?"

Rupanya ia cenderung berbeda pandangan:
"tapi kita hanyalah manusia yg bisa melihat , mendengar dan merasakan,,,,
kata para filsuf

yaa boleh lahhh cil .... :)
kalau ga ada tukang kritik
mana bisa dapat orang yang nemukan solusinya
kalau gak ada solusi ,,, mana ada yang kritik".....
Pebri Yanti Simamora

Gamblangnya mungkin begini: Kita sebagai rakyat yang tidak tahu menahu dan tak berwenang, dalam konteks ini soal PLN,,,, bukan berarti harus bungkam dan nurut2 saja kalau ada masalah, tugas kita adalah mengkritik kinerja mereka2 yang menyimpang dalam kewenangannya jikalau sudah nampak jelas apa kesalahan mereka, karena dampaknya baik langsung maupun tidak langsung akan menuju ke kita sendiri. Nah, bagaimana soal solusi??? Dalam konteks orang yang buta pengetahuan tentang PLN, ya jelas g bisa kasi solusi teknis maupun non-teknis apa2... apalagi yang g punya kekuasaan.... Kita akan kena getahnya terus jikalau diam dan nurut... Dalam kasus saya yang notabene merasakan Malang, apakah salah jika saya merasa ter-alienasi dan ter-anomi (asumsi bahwa pemerintah tidak mempedulikan masing-masing individu) di Samarinda kemudian berpindah ke tempat yang lebih layak????

Penutup nih..... Mungkin yang dimaksud kritik teman saya di atas dan saya kombinasikan dengan substani Febri adalah "Saatnya kita-kita pemuda calon pemimpin untuk mengabdi ke daerah asal masing2,, di manapun kita menuntut ilmu,,, sehingga terjadi pemerataan pembangunan(Jangan sampe kacang lupa kulitnya). Bagaimana caranya (Dalam konteks pelajar / mahasiswa)???? Demo?????? Silakan jika menurut kelompok kalian ada suatu penyimpanagn ekstrim. Tapi yang lebih tepat adalah memacu diri kita untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya dan memperbaiki moral kita agar ke depannya saat kita punya skill, capability, knowlegde, science, POWER, and AUTHORITY kita bisa membangun daerah dengan sebaik-baiknya sehingga tercipta Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera merata!!!! HIDUP PEMUDA INDONESIA!!!!!!!

Mohon maaf atas kurangnya data dan sumber terpercaya, posting ini dibuat buru-buru, Insya Allah ada perbaikan hingga selesai....