Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Juli 2014

Bongkar Misteri HANTU! | Part 2

Setelah sebelumnya membahas epistemologi HANTU dari berbagai perspektif pada Part 1, Kini saatnya menjawab pertanyaan terpenting: "Apa hantu yang paling kita takuti? Sejak kapan kita takut dengan hantu? Kenapa kita takut?"

Pertama harus kita pilah dahulu lokus terhadap apa yang kita takuti. Terhadap hantunya, penampakannya, atau kerasukan? Terhadap subjek hantu, kita tidak sepatutnya takut. Takut hanyalah diperuntukkan terhadap Tuhan. Definisi hantu pada Part 1 adalah "makhluk gaib/halus yang secara sporadis tertangkap oleh indra manusia yang bersifat supranatural (supra/super=melampaui/melebihi, natural=*hukum alam) metafisis (meta=tidak terikat/melampaui, fisis=bersifat hukum fisika)". Apapun jenis hantu yang sudah kita bahas pada Part 1, mereka sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang bahkan derajatnya masih di bawah kita, karena manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna.

Kalau begitu apakah wajar kita takut akan penampakan dan kerasukan? Mari kita definisikan dahulu. Pada Part 1 dijelaskan bahwa penampakan hantu adalah "Penampakan metafisis menakutkan baik visual, pendengaran, sentuhan, tekanan dan suhu, maupun pikiran", sedangkan definisi kerasukan/kesurupan adalah "Kemasukan (roh jahat dsb)". Dalam kondisi-kondisi yang sudah dijelaskan barusan, wajarkah jika seorang manusia merasa takut? "Definisi takut yang saya anut adalah perasaan kala akan/sedang menghadapi atau dihantui akan perkara yang kita tak punya kuasa atasnya". Boleh jadi perkara itu berupa ancaman, penindasan, musibah, pertandingan, pertarungan, pertempuran, ketidaktentuan, bahkan penampakan, dan kerasukan. Takut sendiri merupakan satu dari beberapa tanggapan emosi yang menjadi mekanisme bertahan hidup. Tanpa rasa takut sama sekali, kita akan selalu mendekati bahaya tanpa pertimbangan yang pada waktunya bisa mati konyol. Gugurnya rasa takut karena perhitungan dan kemampuan disebut "Berani", sedangkan absennya rasa takut karena keacuhan disebut "Nekat". Dalam konteks menghadapi hantu, orang nekat justru cenderung menantang, memperolok, dan meremehkan hantu dalam berbagai situasi. Ini tidak dianjurkan, karena bagaimanapun kita harus tetap menghormati sesama makhuk Tuhan. Kalau sudah kena apesnya, justru orang-orang seperti ini yang akan ditakuti atau dirasuki hantu tersebut. Cukuplah kita mengais sejumput keberanian dalam menghadapi fenomena penampakan dan kerasukan agar tidak takut berlebihan (paranoid).

Dalam definisi takut di atas, frase "Kita tak punya kuasa atasnya" itulah yang akan saya jadikan diksi dalam pembahasan kita seterusnya. Sebuah analogi sederhana, kita tidak takut jika bertemu dengan Mike Tyson dalam keadaan sehari-hari. Ia hanya manusia biasa seperti kita, mungkin berpapasan di jalan atau duduk santai di tempat umum. Tapi bayangkan jika anda bertanding di atas ring melawan Mike Tyson! Segala sugesti dan memori akan tercuat tentang bagaimana ganasnya Tyson menghempaskan lawan-lawannya di atas ring. Kalau anda tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk setidaknya memiliki peluang dalam melawan Tyson, maka anda akan ketakutan karena tak punya kuasa atas sakitnya dihajar Tyson.

Begitu pula dengan hantu. Penampakan hantu yang aneh-aneh pada umumnya melampaui hukum fisika, kimia, dan biologi sekaligus. Sebut saja hantu mengambang, muncul dan menghilang, berpindah tanpa bergerak, manusia berbadan hewan, kepala terbang, dsb. Di sini terjadi efek ketakutan berkali lipat karena banyak variabel yang di luar kuasa manusia. Bagaimana saya bisa kabur dengan berlari sedangkan hantunya bisa terbang? Bagaimana saya bisa melawannya secara fisik kalo hantunya saja sudah berdarah-darah, ususnya ke mana-mana tapi masih bisa jalan? Kenapa hantunya mendatangi saya? Saya salah apa? Ada kualat, nantangin atau gimana? Saya mau disakiti macam apa? Apa badan saya mau dicabik-cabik kukunya? Apa punggung saya mau dibolongi seperti dia? Dan masih banyak lagi komplikasi perasaan takut yang terjadi jika kita melihat penampakan hantu.

Dalam menghadapi Tyson tadi, faktor ketakutan langsungnya sudah jelas, sakit dihajar Tyson. Selebihnya yang tidak langsung adalah efek pasca dihajar, yaitu beberapa kemungkinan yang masih bisa dianalisa secara medis, apakah saya sekedar pusing, pingsan, koma, atau mati? Rahang saya patah, pelipis saya sobek, atau gegar otak? Kalau anda seorang petarung, mungkin hal itu tidak masalah bagi anda, karena cedera dan sakit fisik adalah hal biasa, mati pun terhormat dan membanggakan dalam memberi perlawanan. Berbeda hal dengan non-petarung. Hidupnya tidak biasa kekerasan fisik, banyak capaian yang harus diraih di luar ring tinju sebelum dia mati dihajar Tyson yang dianggapnya tidak sepadan, maka ketakutannya akan menjadi berlipat ganda karena tidak rela harapannya tak tercapai akibat mati konyol.

Sedangkan dalam menghadapi penampakan hantu, faktor ketakutannya adalah ketidaktentuan. Hantu Apa? Mau apa dia? Saya harus lari ke mana? Kenapa ditampakkan, salah apa saya? Bagaimana menanggapinya, apakah lari, dilawan, dibaca-bacain? Ada satu fenomena menarik yang baru-baru ini terjadi masif di AS. Ada sesosok hantu baru dalam percakapan sehari-hari warga AS yang bernama Slenderman. Slenderman merupakan sosok jangkung bersetelan kantor dengan jas dan dasi. Rupanya datar alias muka rata/tidak berwajah. Ia tidak bergerak sama sekali, hanya berpindah tempat dalam sekejap (bukan bergeser, tapi pindah instan) dan selalu menampilkan figur yang sama, dingin dan diam. Tidak ada cakar, taring, tanduk, ekor, atau alat bawaannya yang berpotensi menyakiti. Lalu apanya yang membuat ia menakutkan? Sosok Slenderman ini memanfaatkan unsur "ketidaktentuan/ketidakpastian" dalam menakuti warga AS yang sudah sangat modern. Variabel modernitas yang perlu diperhatikan adalah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan sedemikian rupa hingga bisa menjelaskan hampir segala hal yang perlu diketahui keseharian manusia. Slenderman telah melanggar hukum Fisika karena tidak bergerak dalam perpindahannya, juga melanggar hukum biologi dengan tidak memiliki organ wajah/muka rata. Kalau anda dikejar sesuatu yang bahkan tidak bergerak, kemudian tiba-tiba sudah di hadapan anda dengan muka rata, anda mau apa? Di saat masyarakat yang selalu "pasti" dihadapkan dengan "ketidakpastian", di situlah pamungkasnya ketakutan.


Di sinilah pendekatan Materialisme-Dialektika-Historis diperlukan. Singkatnya, MDH adalah filsafat Karl Marx yang mengaitkan segala hal, baik fenomena alam maupun sosial, dengan interaksi (dialektika) materi berdasarkan runtutan sejarahnya (historis). Sebagaimana senjata penakut Slenderman adalah ketidakpastian, lalu mengapa harus berpakaian jas dan dasi? kenapa tidak kain putih atau kafan atau hanya terbalut selembar kain kusam ala gladiator? Di sinilah kemudian peran "akal" hantu bermain dalam menicptakan inovasi dan strategi politis-sosiologis. Yang ditakut-takuti sosok Slenderman adalah orang AS, baju kesehariannya di jalan kalau pulang kantor adalah jas dan dasi, bukan kain kusam ala gladiator atau tarzan. Kalau orang-orang Indonesia juga mengenal hantu muka rata, pastinya tidak berpakaian jas dan dasi, mungkin berbaju santai, atau berkain polos putih atau hitam.

Mari kita lakukan face off, komparasi bipolar yang akan sangat membuka mata kita semua. Pocong vs Drakula. Kenapa pocong lompat? Karena dibalut kain kafan. Kenapa dibalut kain kafan? Karena Orang kalau meninggal dikafanin, faktor determinan pemicu takutnya adalah "sosok mati hidup kembali". Di mana ada pocong? di Indonesia. Kenapa di Indonesia? Karena orang Indonesia yang mayoritas muslim, kalau meninggal dibungkus kafan. Mari kita lanjutkan dengan Drakula, kita permudah dengan sosok drakula versi umum yang menggunakan tuksedo, dasi kupu, dan pantovel. Kenapa drakula memakai tuksedo, dasi kupu, dan pantovel? Karena pada umumnya orang yang meninggal di barat akan dipakaikan tuksedo, dasi kupu, dan pantovel. Di mana ada drakula? di Barat. Kenapa di Barat? Karena di sana mayoritas Kristen, kalau meninggal didandani sebaik mungkin. Kenapa memakai tuksedo, dasi kupu, dan pantovel dianggap dandanan terbaik? Karena tuksedo, dasi kupu, dan pantovel adalah setelan yang secara umum dianggap paling formal dan elegan dalam konteks sosiologis barat. SEE??!

Jadi teman-teman, prinsip ini juga berlaku dengan jenis hantu-hantu lainnya. Kenapa Yasha di Jepang pakai kimono, kenapa Ashura di India yang mukanya jelek akan dikalahkan ksatria atau dewa yang gagah dan berparas tampan, Kenapa Dark Elves dikalahkan pasukan Thor dkk. dari Asgard di Skandinavia, Kenapa harus ada SETH di malam hari sebagai oposisi HORUS di siang hari dalam agama pagan Mesir, kenapa ada sosok Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong, dan segala sosok penghuni objek lainnya yang berusaha memperdaya masyarakat agar terjadi pengultusan pada sosok mereka di objek-objek yang dihuninya, dan masih banyak lagi. Di sinilah filsafat MDH sangat relevan penerapannya dalam membantu kerangka berpikir kita dalam mempelajari mitologi-mitologi dunia.

Ini semua tentang kontrol sosial. Tentang metode apa yang bisa digunakan oleh Iblis, Jin, Setan, yang muncul sebagai hantu-hantu tadi. Dengan memanfaatkan kemampuan mereka berubah wujud dan umur yang panjang sehingga bisa lebih lama mempelajari psikologi, sosiologi, antropologi, komunikasi, filsafat, dan politik di dunia manusia, target godaannya sepanjang masa. Sehingga mereka bisa melakukan penampakan atau kerasukan dengan sosok yang paling tepat di tempat dan waktu yang tepat pula. Ringkasnya, penampakan dan kerasukan banyak macamnya. Baik dalam penjelmaan sebagai sosok manusia, hewan, manusia setengah hewan, sosok hewan hibrid dengan anatomi hewan lainnya, monster, atau bermuslihat sebagai guru spiritual, nenek moyang, dll. Kesemuanya hanyalah tipu muslihat untuk menggelincirkan manusia, memindahkan rasa takut berlebih bukan pada tempatnya. Penampakan dan kerasukan HANTU hanyalah satu dari sekian masif tipu muslihat mereka terhadap manusia. Better aware and wake up :)

Mari kita mulai jawab pertanyaan-pertanyaan di awal posting ini. Apapun itu, hantu yang paling membuat kita takut justru adalah hantu yang paling mungkin muncul sebagai penampakan terhadap kita jika ada kesempatan, karena jin mengetahui faktor-faktor ketakutan kita sebagaimana yang digambarkan film "Monsters University". Ketakutan yang tepat akan menghebohkan seseorang hingga tersampaikan kepada orang-orang sekelilingnya, sampai nantinya cukup untuk membuahi embrio mitos-mitos hantu baru atau menguatkan mitos lama yang sudah ada. Sekali lagi setan berhasil menebar fitnah. Kapan  dan kenapa kita mulai takut? Kapanpun kita tidak memiliki kuasa atas apa yang akan kita hadapi. Bagaimana agar memiliki kuasa? Pelajari seluk-beluk perkaranya sedemikian rupa hingga kita merasa cukup mampu menanggulangi hal tersebut. Bagi yang belum, silakan mendalami misteri HANTU ini pada Part 1.

Penulis bukan berarti tidak pernah takut hantu sama sekali. Tapi benar-benar terasa perbedaannya saat kita bisa berpikir rasional dan lebih positif terkait semua hal, termasuk menanggapi fenomena yang kita bahas ini. Setidaknya saya tidak separanoid dulu. Semoga Tuhan selalu melindungi kita dari tipu daya dan godaan Setan. Amin.

Rabu, 30 Juli 2014

Bongkar misteri HANTU! | Part 1

Bingung tentang... Apa sih sebenarnya hantu? Hantu itu apakah jin, setan, atau iblis? Mereka sama gak sih? Kita akan kupas tuntas dari perspektif berbagai agama hingga ilmuwan sekuler. Bagi teman-teman yang gak sabar pengen pembahasan seru mengenai hantu, boleh langsung menuju ke Part 2. Tapi, yang butuh penjelasan lengkap saya sarankan untuk bersama-sama mengikuti diskusi di bawah ini karena kita akan membedah kesalahan persepsi dalam masyarakat tentang definisi tentang Hantu, Setan, Jin, dan Iblis. Semoga bermanfaat.

Definisi hantu menurut Kamus Besar bahasa Indonesia adalah “roh jahat (yang dianggap terdapat di tempat-tempat tertentu)”. Hantu dalam abjad bahasa Indonesia juga sering dikaitkan sebagai kebalikan suku kata dari Tuhan (Tu-Han,  Han-Tu) yang mengacu pada semiotika oposisi (melambangkan keterbalikan). Sering kali hantu disinonimkan dengan "setan", sebagaimana yang sering kita dengar dan baca pada kisah-kisah di masyarakat dan media. Di Indonesia khususnya, hantu dipersepsikan sebagai bentuk “penampakan metafisis menakutkan” apapun baik visual, pendengaran, sentuhan, tekanan dan suhu, maupun pikiran. Jika muncul entah hanya satu, sebagian, atau semua elemen di atas, maka orang awam tidak lagi membedakan hantu, setan, jin, atau iblis. Apalah itu gak penting, yang penting kabur lari dulu!!!

Pertama akan kita bedakan hantu, jin, dan setan, sekalian juga iblis. Keempatnya merupakan jenis makhluk halus/gaib seperti malaikat, yaitu makhluk gaib/halus yang secara sporadis tertangkap oleh indra manusia yang bersifat supranatural (supra/super=melampaui/melebihi, natural=*hukum alam) metafisis (meta=tidak terikat/melampaui, fisis=bersifat hukum fisika). Kita akan berfokus sejenak dalam membahas malaikat.

Malaikat merupakan makhluk gaib yang sering diasosiasikan dengan kebaikan dan kebenaran, karena peran dan tugasnya sebagai tangan Tuhan dalam banyak hal. Dalam ajaran Islam malaikat loyal absolut terhadap Allah serta tak memiliki nafsu. Malaikat memiliki akal, sesekali mereka mempertanyakan suatu perkara terhadap Allah, misalnya tentang penciptaan manusia pada Al-Baqarah: 30. Namun karena tidak memiliki nafsu, maka tidak berkeinginan terhadap Allah untuk menggunakan akalnya dalam rangka membangkang, menentang, ngeyel, improvisasi, inovasi, ngakalin, politik, seolah-olah, atau apapun bahasanya. Akalnya digunakan sepenuh-penuhnya dalam batas menuruti perintah Allah.

Sedangkan dalam agama Kristen dan Yahudi, malaikat bisa memberontak dan melawan perintah Allah hingga nantinya disebut "Fallen Angel" (Malaikat yang jatuh *derajatnya?). Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa bahkan dalam Islam ada konsep seperti Kristen-Yahudi mengenai malaikat pemberontak yaitu Azazil/Azazel yang merupakan wujud awal Iblis sebelum ia menentang Allah bersujud terhadap Adam, hal ini terbantahkan dalam Al-Kahfi: 50 yang menyatakan bahwa Iblis adalah dari golongan Jin dan dalam An-Nahl: 50, Al-Anbiya: 26-28, dan At-Tahrim: 6 yang menegaskan bahwa malaikat selalu mematuhi Allah.

Fallen Angel inilah yang akhirnya dikenal sebagai “hantu/ghost” (terkecuali holy ghost/roh kudus) dalam terminologi Kristen dan Yahudi. Jika dalam Islam pemimpin kaum setan adalah “Iblis” dari golongan jin, dalam Kristen-Yahudi para petinggi hantu yang berjuluk "Devil Lord/Lord of Evil/Dark Lord” dikenal dengan banyak nama berdasarkan epistemologi dan personifikasi sifat masing-masing, seperti: Lucifer (sombong, Ultimate Summon Persona 4), Mammon (tamak), Asmodeus (nafsu), Leviathan (dengki, Summon Final Fantasy), Belphigor (malas), Satan (murka, Ultimate Summon Devil Survivor 2), Beelzebub (rakus, suka nyetrum Tatsumi Oga), Mephistophelis (musuhnya Ghost Rider), Arch Fiend, Serpent (membujuk Hawa memakan buah pengetahuan/kuldi dengan menyamar jadi ular), Belial (Bos pertama Devil May Cry 4), Old Nick, Astaroth (Karakter Soul Calibur), Diablo, dan masih banyak lagi. Bahkan Gabriel (Jibril) pun difiksikan turut menjadi “The Fallen” pada Film Keanu Reeves, "Constantine". (*Maaf ngrembet kemana-mana, hahahaha... yang bingung search aja sendiri trivialnya).

Konsep malaikat yang bisa memberontak ini hampir mirip dengan agama-agama terdhulu, sebut saja yang ada di Indonesia, Hindu dan Budha. Di mana malaikat bagaikan Dewa (sebagai representasi Sang Hyang Widhi) dan Jin bagaikan Ashura-Rakshasa (India)/Butho-Raksasa (Jawa). Beberapa dewa bisa jadi jahat dan beberapa Butho bisa jadi baik. Perbedaannya hanyalah dalam agama Hindu dan Budha, serta agama-agama pagan kuno seperti di Mesir, Yunani, Skandinavia, dan Roma, memunginkan adanya perkawinan silang antara dewa dengan butho (contoh Hindu: Batara Guru-Batara Durga), dewa dengan manusia (contoh Yunani: Zeus dengan mamanya Perseus "Wrath of Titans", mamanya Hercules, sampai mamanya Percy Jackson), serta butho dengan manusia (contoh Hindu: Bima dengan Arimbi punya anak Gatotkaca). Maka dalam agama-agama ini muncullah predikat demi-god (manusia setengah dewa), demi-human (jin/siluman setengah manusia). Islam, Kristen dan Yahudi (Agama Samawi/langitan yang dibawa Ibrahim) tidak mengenal hal tersebut. Hanya beberapa karya fiksi seperti game DMC yang mempropagandakan demi-human dalam bingkai Kristen-Yahudi (Sparda-Martha punya anak Dante dan Virgil, Nero gak tau anaknya siapa…).

Yang harus dipahami adalah bahwa definisi KBBI pada paragraf pertama tadi mungkin berlaku dominan dalam konteks "roh jahat" walaupun ada khususon pada beberapa kasus. Dunia fiksi mengenal "hantu baik" seperti Casper, misalnya. Ada juga beberapa kartun lain seperti 3 Little Ghosts: Bumper, Cutter, & Sally, dalam serial Manga Hikaru No Go ada tokoh Shusaku Honinbo, dan masih banyak lagi. Selain bertujuan sebagai propaganda agar anak-anak tidak takut hantu, sebenarnya kisah-kisah tadi tidak sepenuhnya fiksi, yang artinya juga terinspirasi dari kisah-kisah "hantu baik" yang beredar di masyarakat sekitar mereka. Pernah dengar cerita hantu baik? Biasanya semacam hantu yang mengingatkan orang secara halus agar tidak meampaui batas akan suatu perbuatan atau hantu yang menemani perjalanan/kehidupan seseorang sehari-hari. Kesimpulannya: kalau memang ada hantu baik, hantu jenis ini tidak perlu ditakuti (yaeyalah keleus!!!).

Kembali serius pada konteks “roh jahat”. "Penampakan hantu sebagaimana dipersepsikan sebagai penampakan metafisis menakutkan baik visual, pendengaran, sentuhan, tekanan dan suhu, maupun pikiran", masih memiliki banyak varian pendekatan dalam hipotesanya. Malaikat juga melakukan penampakan, tetapi tidak menakutkan. Kalaupun Nabi Muhammad ketakutan saat disuruh membaca ayat pertamanya di Gua Hira, itu karena intimidasi dan dekapan Jibril bagaikan guru atau dosen “killer” nyuruh baca murid yang buta huruf. Yang serem metodenya, bukan penampakannya.

Pendekatan pertama adalah versi kaum awam. Mereka menganggap apa saja dari golongan makhluk halus, baik setan, jin, iblis, hingga roh manusia yang telah meninggal dan melakukan penampakan, maka itulah "hantu". Ada beberapa hal yang harus diluruskan di sini, sekaligus kita akan memasuki versi ke dua, yaitu pendekatan kritis.

Kata “setan” dalam bahasa Indonesia sendiri memiliki makna yang sudah terdistorsi. Jika diambil dari bahasa arab “syaithan” yang dipakai pada Qur’an, maknanya bukanlah makhluk halus/roh jahat yang menakut-nakuti sebagaimana yang biasa kita dengar. Melainkan lebih terhadap “sifat”, apapun yang buruk kemudian tergolong sebagai syaithan. Singkatnya, kalau manusia atau jin itu berbuat kejahatan, maka ia disebut setan. Pembahasan kenapa Setan bukan hantu versi Al-Qur’an, tunggu posting selanjutnya :).

Dalam konteks Yahudi-Kristen, Satan dan setan adalah hal yang berbeda. Setan dalam bahasa Inggris disebut Demon/Devil. Sedangkan Satan diambil dari bahasa ibrani “Satan” sebagaimana bahasa Inggris menyerapnya secara langsung tetap menjadi “Satan”. Satan, sebagaimana Iblis merupakan nama 1 subjek/orang (bukan segolongan) yang termasuk “petinggi” dalam strata Demon-Devil/Djin-Genie. Nama Satan ini  merepresentasikan murka/wrath. “Makhluk roh yang pertama dan yang paling tercela menjadi Satan.” (Yohannes 8:44). Istilah Satan sering kita dengar dalam Satan Worshippers/Luciferian terkait dengan pemujaan Iblis yang nantinya akan dipimpin oleh Dajjal/Anti-Christ. Kalaupun Satan melakukan penampakan, gak akan yang gampangan kayak di film-film horor Indonesia.

Kemudian tentang roh manusia. Menurut Islam, jika sudah memasuki alam kubur, yang baik akan mencicipi trailer surga (dideskripsikan salah satu H.R. Ahmad), yang jahat disiksa dengan penjara bawah tanah berdinding panas (Al-Mu’minun: 99-100, Ar-Rum: 56). Tidak ada konsep arwah penasaran dalam Islam, tidak ada kemampuan atau izin Allah bagi arwah yang telah meninggal untuk kembali ke dunia.

Sedangkan Kristen sebaliknya, Injil menyebut roh gentayangan (Luk 8:31-33, Wah 20:11-15) juga sebagai roh kotor (unclean spirit) (Mat 10:1, Luk 9:42). Tidak ada keterangan pasti mengenai kemampuan roh untuk “menampakkan diri”. Namun dijelaskan bahwa roh gentayangan dapat merasuki manusia (Mar 5:9, Mat 12:43, Luk 6:18, Im 20:27), dapat dipanggil (Im 20:6, 2 Raja 21:6, Yes 8:19, UI 18:11), dan butuh makanan (1 Kor 10:20, Maz 106:28).

Bagi Hindu-Budha, fase roh gentayangan yang diartikan dapat berkeliaran, menampakkan diri, dsb. tidaklah ada. Makhluk yang mati akan segera bereinkarnasi sesuai karma hidupnya, atau menuju Nibbana/Nirvana sebagai Budha jika telah mencapai kesempurnaan. (ada thread reccomended abis: fakta menarik dalam budhisme).

Masuk ke pembahasan tentang Jin. Menurut Kristen dalam Injil-Injil khusus yang berbahasa Indonesia (Im 17:7, Taw 11:15) kata “Jin” diambil dari bahasa Ibrani “Sa’iyr” yang merujuk pada sesembahan jaman pagan, salah satu dewa berhala (idol) berwujud kambing jantan. Dalam Injil-Injil berbahasa Inggris mereka menyebutnya langsung sebagai "goat idol". Terminologi Jin dalam Injil Indonesia yang berarti berhala kambing, berbeda konteks dengan noun bahasa inggris Djin-Genie (Jin-Jinny) yang merujuk jin versi Islam.

Dalam Islam, jin adalah makhluk halus berakal ciptaan Allah yang diciptakan dari api yang sangat panas sebelum diciptakannya Adam (Ali-Hijr: 27, Ar-Rahman: 15). Jin memiliki jenis kelamin. Djin/Jin berarti laki-laki, sedangkan Genie/Jinny berarti perempuan. Karena berakal dan juga memiliki nafsu, jin bisa memilih untuk baik atau jahat seperti manusia (Jin: 14), hanya bedanya mereka metafisis. Beberapa pendapat menyatakan bahwa jin mampu merasuki tubuh manusia. Misalnya dalam dalam ta’wil/interpretasi berikut, “Sesungguhnya setan (jin) beredar di dalam diri manusia seperti aliran darah” (H.R. Bukhari-Muslim). Bisa juga jika setan (tanpa tanda kurung “jin”) berarti hawa nafsu manusia-lah yang beredar seperti aliran darah dan berpotensi membawa kita bersifat buruk dan menjadi setan, Wallahualam.

Tapi bagaimana dengan penampakan? Menurut Al-A’raf: 27, Manusia tidak mungkin bisa melihat jin dalam bentuk aslinya, kecuali Nabi dan Rasul. Namun banyak riwayat yang menegaskan bahwa jin bisa berubah wujud menjadi manusia atau hewan. Tidak ada pula pernah disebutkan batasannya, kecuali menjelma sebagai Nabi Muhammad SAW. Artinya, mungkin saja si jin menjelma jadi pocong, kuntilanak, gendruwo, drakula, Edward Cullen, manusia berbadan ular, singa bersayap, godzilla buntut lele, dkk. Hal ini juga menegaskan bahwa dalam pandangan Islam jika ada fenomena munculnya arwah penasaran, entah karena mati dimutilasi, anak haram dibuang, dibunuh setelah diperkosa, atau menyamar sebagai nenek moyang seseorang, maka mereka adalah dari golongan jin yang menjelma.

Terakhir adalah pendekatan Ilmiah sekuler. Ilmuwan menyatakan bahwa penampakan dan kerasukan tidak lain hanyalah halusinasi berkat faktor halusinogen yang kuat. Entah sugesti yang sangat kuat dan berkesinambungan dalam waktu tertentu, trauma, narkoba, hipnotis/self-hipnotis, tekanan hidup, kekacauan, dsb. Dalam bahasa kejiwaan, kerasukan disebut sebagai Folie a deux (search aja). Menurut deskripsinya, Folie a deux sekaligus menggagalkan definisi dari KBBI tentang kerasukan/kesurupan, yaitu "Kemasukan (roh jahat dsb)". Sedangkan penampakan hanyalah ilusi yang terjadi karena gelombang otak berada dalam frekuensi tertentu. Hal ini dipicu juga oleh faktor-faktor penyebab kerasukan dan faktor lingkungan. Intinya, menurut ilmuwan, kerasukan dan penampakan hanyalah gejala otak manusia, tanpa melihat variabel keberadaan makhluk halus. Penelitian ilmuwan lengkap baca di sini.

Bagaimana dengan hantu yang tertangkap kamera? dikutip dari Livescience (29/01), ternyata tidak sedikit dari para ilmuwan yang justru mengatakan bahwa hantu itu tidak ada. Apa yang dinamakan hantu tersebut hanyalah energi terakhir dari manusia ketika dia mati. Entah kita mau bilang itu murni hantu sebagai makhluk halus yang metafisis, entah itu hanya ampas/residu energi manusia yang sudah mati, atau kita mau bilang bahwa hantu itu energi?

Dalam Islam ada konsep yang relevan dengan kasus di atas adalah jin dari golongan Qorin.Singkatnya, Jin Qorin adalah golongan jin yang diutus Allah untuk menjadi pendamping manusia. Seorang manusia pasti didampingi seorang jin Qorin. Merekalah (tiap orang dengan masing-masing Qorinnya) yang selalu konsisten dalam membisikkan untuk mendorong perbuatan jahat, dosa, dan munkar, hanya Qorin dari golongan nabi-rasul dan orang-orang yang sangat saleh hingga Qarinnya membisikkan hal-hal baik. Bisikan Qarin yang sangat kuat dapat menjadi sugesti yang tampak begitu nyata. Hal ini sebagaimana diilustrasikan pada karakter Green Goblin dalam dialog Norman Osborn dengan Qorinnya dalam pantulan cermin yang memancingnya untuk memafaatkan kekuatan Green Goblin untuk berbuat jahat pada film "Spiderman". Beberapa teori menghubungkannya dengan Alter-Ego, Alias, atau Persona. Kalaupun seseorang punya lebih dari 2 kepribadian, bukan berarti Qorinnya ada banyak. Melainkan si Qorin membisikkan sugesti yang begitu kuat pada alam bawah sadar seseorang hingga ia punya banyak kepribadian, yang biasanya memancing permasalahan dengan caranya masing-masing. Di saat seseorang meninggal, Qarinnya terus hidup hingga hari kiamat. Maka Qarin inilah yang dianggap sebagai energi orang yang sudah meninggal, karena ia akan mewujudkan tampak dan perilaku yang mirip dengan manusia yang didampinginya selama hidup. Untuk pembahasan lebih dalam silakan baca: "BEDA BISIKAN DAN KEMAMPUAN JIN QARIN DENGAN JIN BUKAN QARIN".

Itu dia breakdown tentang HANTU buat kita-kita… Hantu, Setan, Jin, Iblis punya pengertia sendiri-sendiri tergantung dari perspektif mana anda melihat. Kesimpulannya adalah bahwa gejala atau fenomena kerasukan dan penampakan itu memanglah ada, entah apa atau siapa faktornya, anda bisa telaah sendiri. Sedikit berpikir rasional dan positif tentang bagaimana hantu bisa muncul, bener-bener membantu meredakan ketakutan berlebih :) "Trust me, It helps your courage even just a little bit!"

Terus, kenapa di Indonesia hantu yang muncul pocong dan di barat yang muncul drakula???? Kenapa hantu Indo pake kafan dan drakula pake tuksedo? Kita ketemu di Part 2!