Rabu, 30 Juli 2014

Bongkar misteri HANTU! | Part 1

Bingung tentang... Apa sih sebenarnya hantu? Hantu itu apakah jin, setan, atau iblis? Mereka sama gak sih? Kita akan kupas tuntas dari perspektif berbagai agama hingga ilmuwan sekuler. Bagi teman-teman yang gak sabar pengen pembahasan seru mengenai hantu, boleh langsung menuju ke Part 2. Tapi, yang butuh penjelasan lengkap saya sarankan untuk bersama-sama mengikuti diskusi di bawah ini karena kita akan membedah kesalahan persepsi dalam masyarakat tentang definisi tentang Hantu, Setan, Jin, dan Iblis. Semoga bermanfaat.

Definisi hantu menurut Kamus Besar bahasa Indonesia adalah “roh jahat (yang dianggap terdapat di tempat-tempat tertentu)”. Hantu dalam abjad bahasa Indonesia juga sering dikaitkan sebagai kebalikan suku kata dari Tuhan (Tu-Han,  Han-Tu) yang mengacu pada semiotika oposisi (melambangkan keterbalikan). Sering kali hantu disinonimkan dengan "setan", sebagaimana yang sering kita dengar dan baca pada kisah-kisah di masyarakat dan media. Di Indonesia khususnya, hantu dipersepsikan sebagai bentuk “penampakan metafisis menakutkan” apapun baik visual, pendengaran, sentuhan, tekanan dan suhu, maupun pikiran. Jika muncul entah hanya satu, sebagian, atau semua elemen di atas, maka orang awam tidak lagi membedakan hantu, setan, jin, atau iblis. Apalah itu gak penting, yang penting kabur lari dulu!!!

Pertama akan kita bedakan hantu, jin, dan setan, sekalian juga iblis. Keempatnya merupakan jenis makhluk halus/gaib seperti malaikat, yaitu makhluk gaib/halus yang secara sporadis tertangkap oleh indra manusia yang bersifat supranatural (supra/super=melampaui/melebihi, natural=*hukum alam) metafisis (meta=tidak terikat/melampaui, fisis=bersifat hukum fisika). Kita akan berfokus sejenak dalam membahas malaikat.

Malaikat merupakan makhluk gaib yang sering diasosiasikan dengan kebaikan dan kebenaran, karena peran dan tugasnya sebagai tangan Tuhan dalam banyak hal. Dalam ajaran Islam malaikat loyal absolut terhadap Allah serta tak memiliki nafsu. Malaikat memiliki akal, sesekali mereka mempertanyakan suatu perkara terhadap Allah, misalnya tentang penciptaan manusia pada Al-Baqarah: 30. Namun karena tidak memiliki nafsu, maka tidak berkeinginan terhadap Allah untuk menggunakan akalnya dalam rangka membangkang, menentang, ngeyel, improvisasi, inovasi, ngakalin, politik, seolah-olah, atau apapun bahasanya. Akalnya digunakan sepenuh-penuhnya dalam batas menuruti perintah Allah.

Sedangkan dalam agama Kristen dan Yahudi, malaikat bisa memberontak dan melawan perintah Allah hingga nantinya disebut "Fallen Angel" (Malaikat yang jatuh *derajatnya?). Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa bahkan dalam Islam ada konsep seperti Kristen-Yahudi mengenai malaikat pemberontak yaitu Azazil/Azazel yang merupakan wujud awal Iblis sebelum ia menentang Allah bersujud terhadap Adam, hal ini terbantahkan dalam Al-Kahfi: 50 yang menyatakan bahwa Iblis adalah dari golongan Jin dan dalam An-Nahl: 50, Al-Anbiya: 26-28, dan At-Tahrim: 6 yang menegaskan bahwa malaikat selalu mematuhi Allah.

Fallen Angel inilah yang akhirnya dikenal sebagai “hantu/ghost” (terkecuali holy ghost/roh kudus) dalam terminologi Kristen dan Yahudi. Jika dalam Islam pemimpin kaum setan adalah “Iblis” dari golongan jin, dalam Kristen-Yahudi para petinggi hantu yang berjuluk "Devil Lord/Lord of Evil/Dark Lord” dikenal dengan banyak nama berdasarkan epistemologi dan personifikasi sifat masing-masing, seperti: Lucifer (sombong, Ultimate Summon Persona 4), Mammon (tamak), Asmodeus (nafsu), Leviathan (dengki, Summon Final Fantasy), Belphigor (malas), Satan (murka, Ultimate Summon Devil Survivor 2), Beelzebub (rakus, suka nyetrum Tatsumi Oga), Mephistophelis (musuhnya Ghost Rider), Arch Fiend, Serpent (membujuk Hawa memakan buah pengetahuan/kuldi dengan menyamar jadi ular), Belial (Bos pertama Devil May Cry 4), Old Nick, Astaroth (Karakter Soul Calibur), Diablo, dan masih banyak lagi. Bahkan Gabriel (Jibril) pun difiksikan turut menjadi “The Fallen” pada Film Keanu Reeves, "Constantine". (*Maaf ngrembet kemana-mana, hahahaha... yang bingung search aja sendiri trivialnya).

Konsep malaikat yang bisa memberontak ini hampir mirip dengan agama-agama terdhulu, sebut saja yang ada di Indonesia, Hindu dan Budha. Di mana malaikat bagaikan Dewa (sebagai representasi Sang Hyang Widhi) dan Jin bagaikan Ashura-Rakshasa (India)/Butho-Raksasa (Jawa). Beberapa dewa bisa jadi jahat dan beberapa Butho bisa jadi baik. Perbedaannya hanyalah dalam agama Hindu dan Budha, serta agama-agama pagan kuno seperti di Mesir, Yunani, Skandinavia, dan Roma, memunginkan adanya perkawinan silang antara dewa dengan butho (contoh Hindu: Batara Guru-Batara Durga), dewa dengan manusia (contoh Yunani: Zeus dengan mamanya Perseus "Wrath of Titans", mamanya Hercules, sampai mamanya Percy Jackson), serta butho dengan manusia (contoh Hindu: Bima dengan Arimbi punya anak Gatotkaca). Maka dalam agama-agama ini muncullah predikat demi-god (manusia setengah dewa), demi-human (jin/siluman setengah manusia). Islam, Kristen dan Yahudi (Agama Samawi/langitan yang dibawa Ibrahim) tidak mengenal hal tersebut. Hanya beberapa karya fiksi seperti game DMC yang mempropagandakan demi-human dalam bingkai Kristen-Yahudi (Sparda-Martha punya anak Dante dan Virgil, Nero gak tau anaknya siapa…).

Yang harus dipahami adalah bahwa definisi KBBI pada paragraf pertama tadi mungkin berlaku dominan dalam konteks "roh jahat" walaupun ada khususon pada beberapa kasus. Dunia fiksi mengenal "hantu baik" seperti Casper, misalnya. Ada juga beberapa kartun lain seperti 3 Little Ghosts: Bumper, Cutter, & Sally, dalam serial Manga Hikaru No Go ada tokoh Shusaku Honinbo, dan masih banyak lagi. Selain bertujuan sebagai propaganda agar anak-anak tidak takut hantu, sebenarnya kisah-kisah tadi tidak sepenuhnya fiksi, yang artinya juga terinspirasi dari kisah-kisah "hantu baik" yang beredar di masyarakat sekitar mereka. Pernah dengar cerita hantu baik? Biasanya semacam hantu yang mengingatkan orang secara halus agar tidak meampaui batas akan suatu perbuatan atau hantu yang menemani perjalanan/kehidupan seseorang sehari-hari. Kesimpulannya: kalau memang ada hantu baik, hantu jenis ini tidak perlu ditakuti (yaeyalah keleus!!!).

Kembali serius pada konteks “roh jahat”. "Penampakan hantu sebagaimana dipersepsikan sebagai penampakan metafisis menakutkan baik visual, pendengaran, sentuhan, tekanan dan suhu, maupun pikiran", masih memiliki banyak varian pendekatan dalam hipotesanya. Malaikat juga melakukan penampakan, tetapi tidak menakutkan. Kalaupun Nabi Muhammad ketakutan saat disuruh membaca ayat pertamanya di Gua Hira, itu karena intimidasi dan dekapan Jibril bagaikan guru atau dosen “killer” nyuruh baca murid yang buta huruf. Yang serem metodenya, bukan penampakannya.

Pendekatan pertama adalah versi kaum awam. Mereka menganggap apa saja dari golongan makhluk halus, baik setan, jin, iblis, hingga roh manusia yang telah meninggal dan melakukan penampakan, maka itulah "hantu". Ada beberapa hal yang harus diluruskan di sini, sekaligus kita akan memasuki versi ke dua, yaitu pendekatan kritis.

Kata “setan” dalam bahasa Indonesia sendiri memiliki makna yang sudah terdistorsi. Jika diambil dari bahasa arab “syaithan” yang dipakai pada Qur’an, maknanya bukanlah makhluk halus/roh jahat yang menakut-nakuti sebagaimana yang biasa kita dengar. Melainkan lebih terhadap “sifat”, apapun yang buruk kemudian tergolong sebagai syaithan. Singkatnya, kalau manusia atau jin itu berbuat kejahatan, maka ia disebut setan. Pembahasan kenapa Setan bukan hantu versi Al-Qur’an, tunggu posting selanjutnya :).

Dalam konteks Yahudi-Kristen, Satan dan setan adalah hal yang berbeda. Setan dalam bahasa Inggris disebut Demon/Devil. Sedangkan Satan diambil dari bahasa ibrani “Satan” sebagaimana bahasa Inggris menyerapnya secara langsung tetap menjadi “Satan”. Satan, sebagaimana Iblis merupakan nama 1 subjek/orang (bukan segolongan) yang termasuk “petinggi” dalam strata Demon-Devil/Djin-Genie. Nama Satan ini  merepresentasikan murka/wrath. “Makhluk roh yang pertama dan yang paling tercela menjadi Satan.” (Yohannes 8:44). Istilah Satan sering kita dengar dalam Satan Worshippers/Luciferian terkait dengan pemujaan Iblis yang nantinya akan dipimpin oleh Dajjal/Anti-Christ. Kalaupun Satan melakukan penampakan, gak akan yang gampangan kayak di film-film horor Indonesia.

Kemudian tentang roh manusia. Menurut Islam, jika sudah memasuki alam kubur, yang baik akan mencicipi trailer surga (dideskripsikan salah satu H.R. Ahmad), yang jahat disiksa dengan penjara bawah tanah berdinding panas (Al-Mu’minun: 99-100, Ar-Rum: 56). Tidak ada konsep arwah penasaran dalam Islam, tidak ada kemampuan atau izin Allah bagi arwah yang telah meninggal untuk kembali ke dunia.

Sedangkan Kristen sebaliknya, Injil menyebut roh gentayangan (Luk 8:31-33, Wah 20:11-15) juga sebagai roh kotor (unclean spirit) (Mat 10:1, Luk 9:42). Tidak ada keterangan pasti mengenai kemampuan roh untuk “menampakkan diri”. Namun dijelaskan bahwa roh gentayangan dapat merasuki manusia (Mar 5:9, Mat 12:43, Luk 6:18, Im 20:27), dapat dipanggil (Im 20:6, 2 Raja 21:6, Yes 8:19, UI 18:11), dan butuh makanan (1 Kor 10:20, Maz 106:28).

Bagi Hindu-Budha, fase roh gentayangan yang diartikan dapat berkeliaran, menampakkan diri, dsb. tidaklah ada. Makhluk yang mati akan segera bereinkarnasi sesuai karma hidupnya, atau menuju Nibbana/Nirvana sebagai Budha jika telah mencapai kesempurnaan. (ada thread reccomended abis: fakta menarik dalam budhisme).

Masuk ke pembahasan tentang Jin. Menurut Kristen dalam Injil-Injil khusus yang berbahasa Indonesia (Im 17:7, Taw 11:15) kata “Jin” diambil dari bahasa Ibrani “Sa’iyr” yang merujuk pada sesembahan jaman pagan, salah satu dewa berhala (idol) berwujud kambing jantan. Dalam Injil-Injil berbahasa Inggris mereka menyebutnya langsung sebagai "goat idol". Terminologi Jin dalam Injil Indonesia yang berarti berhala kambing, berbeda konteks dengan noun bahasa inggris Djin-Genie (Jin-Jinny) yang merujuk jin versi Islam.

Dalam Islam, jin adalah makhluk halus berakal ciptaan Allah yang diciptakan dari api yang sangat panas sebelum diciptakannya Adam (Ali-Hijr: 27, Ar-Rahman: 15). Jin memiliki jenis kelamin. Djin/Jin berarti laki-laki, sedangkan Genie/Jinny berarti perempuan. Karena berakal dan juga memiliki nafsu, jin bisa memilih untuk baik atau jahat seperti manusia (Jin: 14), hanya bedanya mereka metafisis. Beberapa pendapat menyatakan bahwa jin mampu merasuki tubuh manusia. Misalnya dalam dalam ta’wil/interpretasi berikut, “Sesungguhnya setan (jin) beredar di dalam diri manusia seperti aliran darah” (H.R. Bukhari-Muslim). Bisa juga jika setan (tanpa tanda kurung “jin”) berarti hawa nafsu manusia-lah yang beredar seperti aliran darah dan berpotensi membawa kita bersifat buruk dan menjadi setan, Wallahualam.

Tapi bagaimana dengan penampakan? Menurut Al-A’raf: 27, Manusia tidak mungkin bisa melihat jin dalam bentuk aslinya, kecuali Nabi dan Rasul. Namun banyak riwayat yang menegaskan bahwa jin bisa berubah wujud menjadi manusia atau hewan. Tidak ada pula pernah disebutkan batasannya, kecuali menjelma sebagai Nabi Muhammad SAW. Artinya, mungkin saja si jin menjelma jadi pocong, kuntilanak, gendruwo, drakula, Edward Cullen, manusia berbadan ular, singa bersayap, godzilla buntut lele, dkk. Hal ini juga menegaskan bahwa dalam pandangan Islam jika ada fenomena munculnya arwah penasaran, entah karena mati dimutilasi, anak haram dibuang, dibunuh setelah diperkosa, atau menyamar sebagai nenek moyang seseorang, maka mereka adalah dari golongan jin yang menjelma.

Terakhir adalah pendekatan Ilmiah sekuler. Ilmuwan menyatakan bahwa penampakan dan kerasukan tidak lain hanyalah halusinasi berkat faktor halusinogen yang kuat. Entah sugesti yang sangat kuat dan berkesinambungan dalam waktu tertentu, trauma, narkoba, hipnotis/self-hipnotis, tekanan hidup, kekacauan, dsb. Dalam bahasa kejiwaan, kerasukan disebut sebagai Folie a deux (search aja). Menurut deskripsinya, Folie a deux sekaligus menggagalkan definisi dari KBBI tentang kerasukan/kesurupan, yaitu "Kemasukan (roh jahat dsb)". Sedangkan penampakan hanyalah ilusi yang terjadi karena gelombang otak berada dalam frekuensi tertentu. Hal ini dipicu juga oleh faktor-faktor penyebab kerasukan dan faktor lingkungan. Intinya, menurut ilmuwan, kerasukan dan penampakan hanyalah gejala otak manusia, tanpa melihat variabel keberadaan makhluk halus. Penelitian ilmuwan lengkap baca di sini.

Bagaimana dengan hantu yang tertangkap kamera? dikutip dari Livescience (29/01), ternyata tidak sedikit dari para ilmuwan yang justru mengatakan bahwa hantu itu tidak ada. Apa yang dinamakan hantu tersebut hanyalah energi terakhir dari manusia ketika dia mati. Entah kita mau bilang itu murni hantu sebagai makhluk halus yang metafisis, entah itu hanya ampas/residu energi manusia yang sudah mati, atau kita mau bilang bahwa hantu itu energi?

Dalam Islam ada konsep yang relevan dengan kasus di atas adalah jin dari golongan Qorin.Singkatnya, Jin Qorin adalah golongan jin yang diutus Allah untuk menjadi pendamping manusia. Seorang manusia pasti didampingi seorang jin Qorin. Merekalah (tiap orang dengan masing-masing Qorinnya) yang selalu konsisten dalam membisikkan untuk mendorong perbuatan jahat, dosa, dan munkar, hanya Qorin dari golongan nabi-rasul dan orang-orang yang sangat saleh hingga Qarinnya membisikkan hal-hal baik. Bisikan Qarin yang sangat kuat dapat menjadi sugesti yang tampak begitu nyata. Hal ini sebagaimana diilustrasikan pada karakter Green Goblin dalam dialog Norman Osborn dengan Qorinnya dalam pantulan cermin yang memancingnya untuk memafaatkan kekuatan Green Goblin untuk berbuat jahat pada film "Spiderman". Beberapa teori menghubungkannya dengan Alter-Ego, Alias, atau Persona. Kalaupun seseorang punya lebih dari 2 kepribadian, bukan berarti Qorinnya ada banyak. Melainkan si Qorin membisikkan sugesti yang begitu kuat pada alam bawah sadar seseorang hingga ia punya banyak kepribadian, yang biasanya memancing permasalahan dengan caranya masing-masing. Di saat seseorang meninggal, Qarinnya terus hidup hingga hari kiamat. Maka Qarin inilah yang dianggap sebagai energi orang yang sudah meninggal, karena ia akan mewujudkan tampak dan perilaku yang mirip dengan manusia yang didampinginya selama hidup. Untuk pembahasan lebih dalam silakan baca: "BEDA BISIKAN DAN KEMAMPUAN JIN QARIN DENGAN JIN BUKAN QARIN".

Itu dia breakdown tentang HANTU buat kita-kita… Hantu, Setan, Jin, Iblis punya pengertia sendiri-sendiri tergantung dari perspektif mana anda melihat. Kesimpulannya adalah bahwa gejala atau fenomena kerasukan dan penampakan itu memanglah ada, entah apa atau siapa faktornya, anda bisa telaah sendiri. Sedikit berpikir rasional dan positif tentang bagaimana hantu bisa muncul, bener-bener membantu meredakan ketakutan berlebih :) "Trust me, It helps your courage even just a little bit!"

Terus, kenapa di Indonesia hantu yang muncul pocong dan di barat yang muncul drakula???? Kenapa hantu Indo pake kafan dan drakula pake tuksedo? Kita ketemu di Part 2!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar