Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Agustus 2014

INSECURE: Romantisme Jaman Papa, Jaman Mama

Tulisan kali ini sebenarnya mencoba untuk mengungkapkan perasaan galau setiap anak manusia. Sering pada beberapa kesempatan berbincang dengan orang tua, baik ayah-ibu, kakek-nenek, om-tante, atau bahkan orang tua yang asing akan memunculkan "infidious comparison" (perbandingan yang menyakitkan) tentang jaman dahulu (jaman mereka) dengan jaman yang kita tinggali sekarang. Contoh: "Kamu harus bersyukur sekarang. Jaman papa dulu gak ada internet, atau sms. Kalau mau kasih kabar ya kirim surat." atau...: "Jaman Nenek dulu enak, masih banyak pohon, sawah, dan ladang di mana-mana. Sekarang semuanya macet, ribet, dan ribut... Bikin pusing!"... SEE? Siapa yang seumur hidupnya belum pernah mendengar hal-hal seperti demikian tadi? Siapa yang menyimpan perasaan "insecure" saat mendengar hal-hal tersebut? Serasa ingin melakukan klarifikasi, tapi bingung harus bagaimana... Akhirnya harus terdiam dengan "poker face" atau sekedar senyum santun sebagai bentuk penghargaan atas cerita sang orang tua. Kalau anda merasakan hal yang sama, maka tulisan ini untuk anda!

Oke, pertama mari kita dikotomikan "perbandingan yang menyakitkan" tadi ke dalam 2 jenis. Jenis pertama adalah kita harus bersyukur karena di jaman orang tua kita tidak tersedia  kemudahan seperti di jaman kita. Misalnya, "Kamu harus beryukur sekarang, ke mana-mana bisa naik motor/mobil. Dulu kakek ke mana-mana cuma jalan kaki atau naik sepeda ontel butut." Sedangkan jenis ke dua adalah jaman sekarang tidak senyaman jaman dulu bagi orang tua kita. Misalnya, "Jaman mama dulu sejuk, udaranya masih bersih. Sekarang polusi di mana-mana".

Ada suatu perasaan yang sama terpancar dari kedua jenis perbandingan di atas. KETIDAKPUASAN. Pada jenis pertama adalah ketidakpuasan, entah karena kita sebagai orang yang lebih muda dianggap kurang bersyukur atas segala kemudahan dan kenyamanan di jaman sekarang, yang dimanifestasikan dengan seringnya kita mengeluh atau merasa selalu kurang (misalnya, "Duh gimana sih ini BBM pending mulu!" atau, "Lelet amat internetnya!"). Bisa juga karena kita kurang bisa memaksimalkan pemanfaatan fasilitas yang ada untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan sang orang tua (misalnya saat nilai kita jelek orang tua akan berkultum *kuliah tujuh jam XDDD* sebagai berikut, "Kamu itu uda dikasih fasilitas masih aja jelek nilainya! Sekolah/kuliah uda bisa naik motor/mobil/angkot, toko buku ada di mana-mana, banyak yang bisa download e-book juga, uda dikasi hp biar bisa janjian belajar sama teman-temanmu, masih kurang apalagi?"
Trust me, I've been there :D... 

Sedangkan pada jenis perbandingan ke dua adalah ketidakpuasan karena perubahan jaman telah "membinasakan" zona nyaman mereka. Masa kecil atau muda adalah waktu agresif dalam produktivitas dan belajar seseorang. Jika orang tua kita dulu terbiasa menikmati suasana asri dan kesenangan yang sederhana, mereka akan kebingungan dalam suasana gaduh dan tak bisa menikmati kompleksitas kesenangan jaman modern. Akhirnya muncul cerita-cerita romantisme masa lalu seperti di atas.

Yang mendasari romantisme ini adalah pola pikir (mindset/way of thinking) yang konservatif (conserve= mengawetkan, *contoh: konservasi hewan langka agar tidak punah) serta didukung kegagalan banyak orang tua dalam memahami secara komprehensif dan holistik mengenai fenomena modernitas dan globalisasi, yaitu jaman kita sekarang ini. Entah karena kesibukan, malas, atau tidak menyadari sama sekali karena kurangnya ilmu dan pengetahuan yang mumpuni terkait hal ini. Mindset konservatif ini mengakibatkan banyak orang tua gagal beradaptasi dengan kemudahan, kecepatan, dan kompleksitas era globalisasi.

1. Kita Harus Bersyukur Karena di Jaman Orang Tua Kita Tidak Tersedia  Kemudahan Seperti di Jaman Kita.
Kita akan fokus terlebih dahulu untuk membongkar jenis pertama. Akan kita bagi dalam 2 pembahasan, yaitu konteks harapan pencapaian standar target dan peringkat kompetitif. Pembahasan di bawah bersifat eksplanatif kasus-per kasus, jangan di-over generalisir untuk segala hal, kasus, situasi, dan kondisi. Kita bisa memanfaatkan pola berpikir dan kerangka analisa contoh-contoh di bawah untuk dimanfaatkan dalam menganalisa kasus lain. So, here we go...

A. Harapan Pencapaian Standar Target
Contoh romantisme orang tua dengan harapan pencapaian standar target adalah seperti di paragraf ke-3, "Kamu itu uda dikasih fasilitas masih aja jelek nilainya!" Harapan orang tua adalah kita punya pencapaian nilai yang baik sebagai standar targetnya. Oke, yang harus dipahami bersama adalah bahwa nilai jelek itu banyak faktornya. Bisa karena anaknya malas, tidak tertarik dengan pelajaran yang nilainya jelek, bisa juga karena hal-hal non-teknis seperti guru/dosen/sistem pengajaran yang bermasalah, atau kurangnya fasilitas penunjang agar si anak bisa mendapat nilai bagus. Kita akan fokus pada yang terakhir, yaitu kurangnya fasilitas penunjang (kalau nilai anda jelek karena faktor lain, ya jangan menyalahkan orang tua). Kita tidak memaknai kurangnya fasilitas dalam konteks seperti sekolahan daerah tertinggal, keadaan kaum fakir-miskin, dsb. Melainkan kita merasa kurang fasilitas walaupun pada dasarnya sudah tercukupi secara umum, sehingga kita sering mengeluh atau dianggap orang tua belum memaksimalkan fasilitas yang ada untuk mendapatkan nilai yang baik sesuai harapan mereka. Let's say, sudah tersedia buku-buku, laptop, hp, wifi atau warnet dekat rumah, dll. Jadi apa masalahnya?

Masalah pertama adalah, dengan lebih mudah dan cepatnya fasilitas untuk belajar, maka lebih mudah dan cepat pula fasilitas untuk bermain dan mendistraksi fokus kita dari belajar. Kalau orang jaman dulu belum ada lampu listrik untuk belajar, mereka juga tidak ada tv untuk ditonton. Kalau di jaman dulu sudah pasti ada anak yang nilainya juga jelek karena terlalu sering bermain layang-layang, gasing, bentengan, gobak sodor, petak umpet, berlarian di kebun dan hutan dsb., maka di jaman kita pasti ada anak yang nilainya jelek karena terlalu sering main game, sibuk twitter-fb-path-instagram-ask.fm, nonton serial korea, atau film hollywood, hang-out/clubbing, dsb. 

Masalah ke dua adalah perbedaan kurikulum dan kebutuhan kompetensi. Jaman sekarang kita dituntut untuk memenuhi standar kompetensi yang makin variatif. Sebenarnya ini wujud konspirasi dunia barat yang membutuhkan kita dari negara dunia ke-3 untuk memenuhi "kompetensi pekerja" dan bukan "leader atau inovator" yang butuh fokus pada suatu peminatan. Hal ini akan kita bahas lebih dalam pada posting "TALK MORE, DO MORE". Kurikulum di jaman saya menuntut seorang siswa dituntut untuk kompeten dalam matematika, IPA, (yang akan dipecah lagi menjadi Biologi, Kimia, dan Fisika), IPS (yang akan dipecah lagi menjadi geografi, sosiologi, sejarah, ekonomi), Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa asing pilihan (wajib memilih 1-2 bahasa asing tambahan seperti Mandarin, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dll.), pengoperasian komputer (TIK atau apapun namanya dan kurikulumnya yang selalu berubah-ubah tiap tahun karena perkembangan IT yang sangat cepat dan dinamis), Muatan lokal (bahasa daerah/minat-bakat), agama, Pendidikan kewarganegaraan, Olahraga, dll. sesuai kebijakan masing-masing sekolah. Sepertinya selalu kurang saja kompetensi kita, terlepas dari tanggung jawab yang begitu besar harus dipikul tempurung kepala seorang siswa di waktu yang sama. Melihat pola di masa lalu, kurikulum di masa depan akan lebih variatif dan kompleks lagi. Misalnya saja, angkatan saya baru mulai belajar Kimia di kelas 1 SMA. Sedangkan pada saat saya kelas 2 SMA, saya menyadari bahwa adik kelas saya yang baru masuk SMP kelas 1 sudah diajarkan Kimia. Lebih ekstrim, Orang tua kita dulu tidak diajarkan pengoperasian komputer di sekolah, sedangkan kita wajib khatam urusan Microsoft Word, Power Point, dan Excel, di samping operasional coding, internet, design, dll. Ringkasnya, bahwa kompetensi yang tertulis dengan angka "6" di rapor jaman dulu, tidak sama dengan kompetensi bernilai "6" di jaman sekarang. Semakin canggih fasilitasnya, semakin kompleks kompetensinya. Sayangnya, jaman dulu dan sekarang sama-sama diwakili oleh angka 1-10 atau abjad A-E. Terkecoh dengan simbol yang sama, orang tua sering tidak menyadari esensi yang jauh berbeda di dalamnya.

B. Harapan Pencapaian Peringkat Kompetitif
Hidup adalah kompetisi. Saya sepakat akan hal itu. Bahkan beberapa prinsip seperti Machiavellian memiliki banyak tuntunan yang lebih ekstrim dalam memahami persaingan kehidupan. Sistem "Reward and Punishment" adalah salah satu konsep manajerial yang memang efektif untuk membangkitkan semangat kompetitif dalam banyak hal, termasuk untuk orang tua dalam mengatur kehidupan anaknya. Ada yang bersifat materiil (hadiah dan hukuman), misalnya, "Kalo kamu ranking 1, mama beliin hp baru, kalo di bawah ranking 10, mama sita hp-nya satu semester." Ada yang bersifat non materiil (pujian dan cacian), misalnya saat kita ranking 1, "Anak papa pinter banget deh!" Atau saat kita ranking di bawah harapan orang tua, "Kamu ngapain aja selama ini kok dapat ranking segini? Tiru dong temenmu yang ranking 1 itu! Uda dibeliin laptop, buku, hp... Apa-apa dicukupin kok masih ranking segini?! Bikin malu nama orang tua aja, Papa aja dulu blablabla..." Trust me, I've been there :D... Hahahahahaha!!!

Kenapa ini terjadi? Itu karena  Mungkin ada juga yang pernah dengar yang satu ini, "Mama aja dulu selalu ranking 5 besar, padahal hidupnya prihatin. Masa' kamu uda dicukupin semua gak bisa masuk 5 besar?"

Alasan pertama sama dengan masalah pertama harapan pencapaian standar target. Yaitu dengan adanya fasilitas yang lebih canggih dan praktis untuk belajar, maka juga akan hadir fasilitas yang lebih canggih dan praktis untuk tidak belajar (entah bermain game konsol atau sibuk bermedia sosial, dll.).

Alasan kedua akan membahas khusus dalam konteks, "Mama aja dulu selalu ranking 5 besar, padahal hidupnya prihatin. Masa' kamu uda dicukupin semua gak bisa masuk 5 besar?". Atau, "Dulu papa lupa diri karena kakek pejabat kaya. Sekarang kita prihatin, kalau kamu gak ranking 5 besar mau jadi apa nanti? Nambahin beban orang tua aja." Apapun kondisi jaman orang tua kita dulu, kita dapat bebannya. Ada infidious comparison lagi di sini, kondisi prihatin vs. sederhana vs. berkelimpahan. Ini berkaitan dengan semangat dan motivasi masing-masing individu sesuai kepribadiannya. Untuk membahas kepribadian silakan baca posting saya selanjutnya yang berjudul, "WHAT MADE US: STILL MAKES ME, YOU, AND THEM".  Ada orang yang terpacu untuk giat dalam kondisi prihatin/kekurangan/kepepet dan malah lalai karena terlalu nyaman/lupa diri/keenakan dalam keberlimpahan. Ada tipe orang yang terpacu untuk tekun dalam kondisi berlimpah karena merasa usahanya berbuah hasil sekaligus menunjukkan rasa syukur atas perolehannya dan justru prustasi/putus asa berusaha karena tidak tabah dan lapang dada jika kekurangan. Ada pula orang yang ulet di masa jaya dan pantang menyerah pula di masa susah, tapi menjadi malas karena terlena dalam kondisi stagnansi atau santai pada beberapa kesempatan. Ada yang selalu mengeluh di segala kondisi, ada pula yang istiqomah/konsisten rajin di segala situasi. Ringkasnya, kondisi kita yang berlawanan dengan kondisi orang tua dahulu (entah ortu prihatin kita berlimpah, atau ortu berlimpah kita prihatin) tidak bisa begitu saja dijadikan alasan kegagalan dalam berkompetisi.

Alasan ke tiga adalah kegagalan orang tua dalam memahami bahwa para pesaing kita di kompetisi yang sama, punya fasilitas yang relatif serupa. Sehingga, tidak seujug-ujug dengan adanya hp, buku, laptop, internet, dll. akan membawa kita lebih unggul atas pesaing kita, terutama dalam konteks fasilitas. Kalau kita dibelikan laptop, teman-teman kita juga dibelikan laptop oleh orang tuanya. Kalau kita dibelikan android, teman-teman kita ada yang dibelikan android, iphone, bb, windows phone, dll. Mungkin beberapa anak hanya mampu dibelikan hp poliponik atau laptop second yang sudah cacat monitor dan keyboardnya sekaligus lemot luar biasa. Hal-hal seperti itu kita kembalikan pada urusan motivasi di alasan ke dua. Ringkasnya, kita berkompetisi melawan orang-orang yang memiliki fasilitas yang relatif setara, bukan bersaing melawan orang tua kita dengan kondisinya dahulu. Sehingga tidak relevan bila, "Dulu mama gak ada laptop, hp, dan internet bisa ranking 1, kamu ada laptop, hp, dan internet kok ranking 27?" Mungkin yang ranking 1-26 mamanya gak ranking 1... :p

2. Jaman Sekarang Tidak Senyaman Jaman Dulu Bagi Orang Tua Kita.
Kita akan coba bahas kasus per kasus. Menanggapi sebuah pernyataan, "Jaman Nenek dulu enak, masih banyak pohon, sawah, dan ladang di mana-mana. Sekarang semuanya macet, ribet, dan ribut... Bikin pusing!" Dalam konteks pembangunan, daerah yang dibentuk menjadi sebuah peradaban modern pastinya akan semakin banyak dihiasi bangunan-bangunan yang memakan lahan kosong dari tahun ke tahun. Ini sudah menjadi konsekuensi logis dalam setiap kemajuan peradaban. Karena citra estetika manusia sudah terbentuk di masa mudanya, maka daerah yang metropolitan dengan segala hiruk-pikuknya tidak akan bisa dinikmati oleh orang tua yang butuh ketenangan dan pandangan luas hamparan alam tanpa terhalang gedung-gedung dan kendaraan berlalu-lalang.

Menanggapi pernyataan lain, "Hp mama dulu simple, tinggal pencet tombol biasa kayak pesawat telepon, Ini android makenya gimana sih? Kok banyak bener gambarnya... Aduh! Ngetik kok di layar, uda kecil bikin salah pencet terus!" Pernahkah hal semacam ini terjadi pada orang tua anda? Terutama untuk hp, laptop, dan internet. Dalam konteks teknologi, peralatan akan semakin canggih dan kompleks dalam rangka mendukung kepraktisan,  kehandalan, dan kecepatan bagi penggunanya.

Resistensi dan penolakan macam ini disebut Cognitive Dissonance (Disonansi Kognitif). Sebuah teori psikologi oleh Leon Festinger yang merupakan bentuk stres mental dan ketidaknyamanan berlebih yang dialami oleh individu karena bertemunya/terkonfrontasi informasi dari dua atau lebih keyakinan, ide, atau nilai di saat yang sama. Termasuk individu yang mempraktekan suatu aksi-reaksi yang kontradiktif dengan keyakinannya. Kognitif berarti sesuatu yang berhubungan dengan teoritik/pengetahuan empirik (keyakinan, ide, nilai) dan disonansi dalam konteks ini berarti ketidakcocokan/ketidaksesuaian. Ingat, masa kecil dan muda adalah masa agresivitas beajar dan produktivitas. Nah, karena masa muda orang tua kita dulu (apalagi nenek-kakek), sekalipun tinggal di kota masih tidak serumit hari ini, maka umumnya mereka akan lebih senang dengan suasana pedesaan. Baik orang tua maupun muda akan sepakat bahwa alam yang asri adalah keindahan dan kota adalah modernitas. Tapi orang tua akan memilih untuk hidup tenang di desa daripada hidup dengan segala kekangan dan kompleksitas sistem di kota. Sedangkan yang muda akan lebih siap hidup di kota dengan segala kecanggihan, peluang-peluang penghasilan dan eksistensi yang ditawarkan, serta kepraktisannya daripada harus tinggal di desa.

Jika di kota kita bisa belanja 24 jam kapanpun kita mau di convenient store sebangsa Indomaret, Alfamart, Alfamidi, Circle K, dan 7-11. Kita bisa nonton bioskop, cafe, dan ke mal untuk hang out. Beberapa rumah punya dispenser untuk air panas instan. Didukung oleh banyaknya supplier dan distributor energi, seperti SPBU untuk BBM, LPG, dll. Mencari eksistensi dengan senantiasa meng-update FB, twitter, instagram, path, BBM, ask.fm, dll. dengan mengandalkan wifi atau sinyal operator untuk akses internet. Bagaimana kalau di desa? Kalau anda kehabisan suatu barang di malam hari, sangat jarang ada warung 24 jam di sana dan anda harus menunggu sampai pagi. Mau Hang out? Silakan memancing, berkebun, bermain layang-layang, atau "mbolang" di hutan sekitar. Mau masak besar atau sekedar masak air, sama-sama harus masak. Ingat, masih banyak rumah di desa menggunakan kompor tungku minyak tanah atau bahkan kayu bakar. Anda ingin eksistensi? Maaf, sinyal operator dan internet masih jarang yang masuk desa. Silakan berkumpul di Karang Taruna, alun-alun, balai desa, atau lapangan bermain setempat. Pemuda pada umumnya tidak akan siap dengan hal-hal itu, artinya kita pun mengalami disonansi kognitif. Ringkasnya, orang tua lebih berorientasi kepastian dan ketenangan, sedangkan pemuda berorientasi pencapaian, efektivitas, dan efisiensi walaupun harus menerjang resiko.

Suatu gadget bisa sangat mudah, praktis, cepat, jika kita memahami prosedur kerjanya. Kerumitan akan dialami orang yang baru hijrah untuk memulai pengoperasiannya. Hal ini butuh cukup banyak waktu, konsentrasi, dan pencarian informasi untuk bisa benar-benar memanfaatkan segala fitur suatu gadget. Misalnya saja saat anda baru mengganti hp biasa menjadi Blackberry, anda harus ngulik isi BB tersebut. Beberapa tahun kemudian anda mengganti BB anda dengan android/iphone, maka anda harus ngulik dari awal lagi. Orang tua tidak tertarik akn hal ini. Justru itu sangat lucu jika para pejabat difasilitasi oleh negara dengan hp/laptop dinas dengan harga yang mahal, padahal hanya bisa sms, telepon, chatting, ngetik word-power point, dan bermin game-game sederhana. Padahal spesifikasi gadget mereka cukup mumpuni untuk bermain game berat, design, recording, dll. yang sama sekali tidak mereka butuhkan.

Kembali dalam konteks orang tua. Yang menarik lagi adalah jika kita pada beberapa kesempatan pernah dimarahi karena terlalu lama bermain/mengutak-atik hp, laptop, dll., di kesempatan yang lain mereka minta tolong dalam mengoperasikan hp dan laptop mereka, entah untuk setting nada dering, pairing bluetooth, kirim email, operasi chatting dengan emoticon dan stickernya, mengetikkan mic. word, animasi power point, formula excell, minta diajarkan bermin game smartphone, dll. Guest What? Kita tidak akan bisa mengajari kalau kita tidak menghabiskan banyak waktu mengutak-atik (dengan konsekuensi dimarahi) hal-hal yang akhirnya membuat mereka minta tolong terhadap kita. hahahaha... just saying... those things happened :D

Mama: "Hapeee terus dipegang siang-malam... Kalau gak main game, chatting, ya online..."
Sometimes later...............
Mama: "Dek, ini mainnya gimana jalannya? Dek, caranya ngirim gambar ini gimana pake Line? Dek, nyari bahan di Google gimana caranya biar ketemu?

Don't get the wrong idea, I Love my parents! Dan tidak semua contoh di atas pernah saya alami secara pribadi, melainkan kompilasi dari berbagai kasus. Mungkin saya terdengar menyudutkan orang tua-orang tua kita semua. Namun yang perlu dipahami, saya hanya menegaskan sebuah pepatah yang berbunyi, "Yang muda (anak, keponakan, cucu) menghormati yang tua, yang tua (ortu, om-tante, eyang) menyayangi yang muda. Pembahasan di atas merupakan sedikit kritik atas tergerusnya rasa sayang orang tua terhadap anak dengan melakukan infidious comparison dalam bentuk romantisme masa lalu yang cukup membebani mental sang anak, hanya karena kegagalan memahami fenomena-fenomena yang kita bahas di atas. Wallahu'alam

Setelah membahas ini semua, apa yang kemudian harus dilakukan? Tergantung... Jika orang tua anda ripe yang terbuka/ekstrovert/open minded, silakan berdiskusi dengan mereka terkait wacana ini. Jika orang tua anda tertutup/introvert/short minded, KAMU SABARO.... Tetap senyum, ikhlas, dan lanjutkan hidupmu! (*Aku rapopo). Setidaknya kita sudah tahu bagaimana dan mengapa semua ini terjadi. Lalu bagaimana dengan peran anak yang harus menghormati orang tua? Akan kita bahas dalam posting saya slanjutnya yang berjudul "FAMILY FACE-OFF: Penjajahan Legal vs. Penjarahan Halal".

Semoga bermanfaat :)

*Kalau orang tua saya ada yang mengerti blogging, saya tidak akan menulis posting ini

Jumat, 09 Desember 2011

Agenda PDWI 2011: "Kunjungan ke Pantai Tanjung Karang"




Ferby: CILLLL..... CILLLL... WOCIILLLL... wocil dimana sih? (wajah murka)

Wocil: zzzzz.....................

Ferby: heh, turu yo? *

Wocil: apa mbak? nggak kok ... (sok cool tapi matanya merah)

Ferby : -______-

Wocil: Lho mbak, ini sampe mana?

Ferby: Liat deh, keren ya.. sekarang kita lagi di pantai Tanjung Karang , kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.. sumpah kueeereeeen ..... *

Wocil: iya ya... mbak, pantai ini udah cukup terkenal lho di kancah internasional.. serius.. soalnya udah banyak fasilitas - fasilitas dan aktivitas yang bisa dilakuin disini..


Ferby: apa aja cil? sumpah yo, aku sampek ndelahom* dari tadi tuh liat Palu, Sulteng. tempatnya lho.. bagusss banget..

Wocil: landscapenya jarang ada di Indonesia, dunia bahkan. pantai Tanjung Karang ini juga terkenal terumbu karangnya mbak.. terdiri dari berbagai macam jenis..belum lagi ikan - ikan hiasnya, makanya banyak bule - bule disini yang suka snorkeling, diving, glass boat. Berjemur juga bisa.. Gak sia - sia deh perjalanan dari surabaya transit makassar sampai di Palu total 4 jam di udara.

Ferby: pasirnya bener2 putih, halus pol* , warna air lautnya bagus ya.. gradasi antara biru muda, putih, biru tua, tourquise, sampe kehijauan.. apalagi disini pantaiya masih virgin, tidak terlalu ramai, tidak banyak kendaraan bermotor ,gedung - gedung bertingkat . kalau diliat - liat, pemandangannya kayak lokasi setting film di tipi - tipi hehehe. sudah cukup banyak villa - villa atau cottage di sini lho.

Wocil : iya, eh nanya sama satu penduduk yuk, kalau mau ke pantai ini pake kendaraan apa, kalau sekarang kan kita sama temen - temen dari asosiasi duta wisata seluruh indonesia (assseeeek...) hehehe...


Ferby: itu - itu.. (menghampiri bapak- bapak yang sedang duduk - duduk di dekat perahu kayu nelayan) misi pak, no apa kareba *? bapak, permisi kalau dari kota Palu mau ke pantai Tanjung Karang jauh , Pak?

Nelayan: belo* oh, iya mbak, mbak kalau dari kota Palu, itu sekitar 40- 45 menit dengan kendaraan pribadi.

Ferby: oiya, terimakasih ya Pak.

Nelayan: Sama- sama mbak.

Ferby: Sulawesi Tenggara memang bagus banget. Karena terdiri dari landscape 4 dimensi yang berbeda. kita bisa liat pemandangan teluk, pantai, gunung, dataran rendah.. suasananya sejuk.

Wocil: Lho, baru tau mbak? emang kan..

Ferby: -____- oiya, di sini juga harga - harga makanan juga terjangkau, kalau mau beli souvenir disini juga ada kain khas dari Palu.

Wocil: asik itu buat oleh - oleh. pasti anak - anak backpacker atau fotografi seneng kalau ke sini, soalnya dapet obyek yang bagus banget.

Ferby: jelas.. apalagi kalau ke pantai Tanjung Karang waktu sunrise atau sunset. siapin deh, slr mu, mau pake lensa fish eye opo* jelly - fish mboh * opo iku.. pastinya hasil jepretannya buaguus

Wocil: ngerti ta mbak kamera- kamera gitu? ('',)

Ferby: heh, enak aja.. ya nggak ngerti sih hehe... =b

Wocil : *glodak =="a

Ferby: Seandainya ya Cil... anak - anak muda jaman sekarang, atau seluruh keluarga di indonesia itu bisa meng- eksplore seluruh kekayaan alam yang ada di Indonesia ini untuk pariwisata, takjamin wis * pasti gak bakalan nyesel, daripada kita ke luar negeri buat jalan - jalan mending kita jalan - jalan di negeri kita sendiri
ya.. pemandangannya luar biasa, harga relatif terjangkau, budayanya juga macem - macem. Buat para pengusaha, keluarga, dokter - dokter yang mau refreshing karena banyaknya aktifitas pasti seneng kalau kesini.

Wocil: bener itu.. Kalau aku sih mbak, aku punya prinsip "jangan bermimpi ingin keliling dunia jika belum keliling indonesia"

Ferby : Wuzzzzz sangaaarrrr... (tumben nggenah*)

Wocil : Tapi masih banyak pr sih buat kita khususnya dan juga buat pemerintah.. pembangunan infrastrukturnya mbak, sarana- prasarana. para wisatawan domestik atau luar pasti bakal sering berkunjung. Indonesia ini punya banyak sekali keindahan alam. Terus ya, kita libatkan semua pelaku industri pariwisata yang ada di sekitar kabupaten Donggala, baik dari pemerintah setempat, warga masyarakatnya, pedagang souvenir, investor, polisi, tim medis semuanya deh supaya pantai Tanjung Karang ini bisa siap untuk dipromosikan atau dijual ke seluruh indonesia bahkan dunia. Partisipasi mereka dijadikan senjata untuk memajukan pariwisata indonesia.

Ferby: betul, paling penting juga kata bapak Bupati Donggala kemarin, yang diharapkan adanya ruang publik yang cukup untuk para wisatawan. karena kebanyakan jarang tempat tinggal warga penduduk berdekatan langsung dengan lokasi obyek wisata.

Wocil: mbak , ayo yuk foto - foto sama anak2 yang lain itu... itu si putra papua enak banget bisa foto - foto di ombak gitu... ayo mbak....

Ferby: aku cil fotoin cil....Sama Mbak Rachel dri Jateng neeeh!!!





Wocil: Aq yoo pengen mbak T.T

Ferby: iyo2... ojo gembeng*!!!





Percakapan ini tidak cukup untuk mendeskripsikan keindahan wilayah Indonesia, dalam hal ini Palu khususnya. Kami yang tinggal di perkotaan benar -benar merasa sangat terhibur, dengan keindahan panorama alamnya. Ini masih di satu wilayah, bagaimana dengaan wilayah lain? pasti lebih luar biasa. bagaimana dengan kalian , rek?* kalian pasti mau kan menjaga kelestarian alam Indonesia kita, biar cucu kita, bisa bangga sama negaranya, bisa menikmati lari - lari di putihnya pasir pantai Indonesia. Kami dan duta - duta wisata lain juga masih masih banyak kekurangan , tapi kita akan terus berusaha dan belajar untuk ini. Biar dunia di luar sana biasa tau , kalau ada surga lain di dunia, namanya Indonesia....

Karena kami berasal dari jawa timur, dengan logat medok yg kental dan dialek suroboyoan, malangan jadi, ini kami buatin kamus kecil arti kata - kata kami diatas hehehe...

-pol: banget
-ndelahom: melamun
-nggenah: benar
-turu: tidur
-no apa kareba: bahasa Palu yang artinya apa kabar? terus belo : baik (ini bukan Suroboyoan , sih hehe..)
-takjamin wis: aku jamin deh
-mboh : entahlah
-pol: sangat
-rek: seruan untuk sebutan pemuda Surabaya, (arek)
-kuereeen: keren banget
-gembeng: cengeng



Putu Ferbika Mitamadella 
Raki Jawa Timur 2011

Wocil Radix Mahakam Dwinov
Raka Jawa Timur 2011