Sabtu, 02 Agustus 2014

INSECURE: Romantisme Jaman Papa, Jaman Mama

Tulisan kali ini sebenarnya mencoba untuk mengungkapkan perasaan galau setiap anak manusia. Sering pada beberapa kesempatan berbincang dengan orang tua, baik ayah-ibu, kakek-nenek, om-tante, atau bahkan orang tua yang asing akan memunculkan "infidious comparison" (perbandingan yang menyakitkan) tentang jaman dahulu (jaman mereka) dengan jaman yang kita tinggali sekarang. Contoh: "Kamu harus bersyukur sekarang. Jaman papa dulu gak ada internet, atau sms. Kalau mau kasih kabar ya kirim surat." atau...: "Jaman Nenek dulu enak, masih banyak pohon, sawah, dan ladang di mana-mana. Sekarang semuanya macet, ribet, dan ribut... Bikin pusing!"... SEE? Siapa yang seumur hidupnya belum pernah mendengar hal-hal seperti demikian tadi? Siapa yang menyimpan perasaan "insecure" saat mendengar hal-hal tersebut? Serasa ingin melakukan klarifikasi, tapi bingung harus bagaimana... Akhirnya harus terdiam dengan "poker face" atau sekedar senyum santun sebagai bentuk penghargaan atas cerita sang orang tua. Kalau anda merasakan hal yang sama, maka tulisan ini untuk anda!

Oke, pertama mari kita dikotomikan "perbandingan yang menyakitkan" tadi ke dalam 2 jenis. Jenis pertama adalah kita harus bersyukur karena di jaman orang tua kita tidak tersedia  kemudahan seperti di jaman kita. Misalnya, "Kamu harus beryukur sekarang, ke mana-mana bisa naik motor/mobil. Dulu kakek ke mana-mana cuma jalan kaki atau naik sepeda ontel butut." Sedangkan jenis ke dua adalah jaman sekarang tidak senyaman jaman dulu bagi orang tua kita. Misalnya, "Jaman mama dulu sejuk, udaranya masih bersih. Sekarang polusi di mana-mana".

Ada suatu perasaan yang sama terpancar dari kedua jenis perbandingan di atas. KETIDAKPUASAN. Pada jenis pertama adalah ketidakpuasan, entah karena kita sebagai orang yang lebih muda dianggap kurang bersyukur atas segala kemudahan dan kenyamanan di jaman sekarang, yang dimanifestasikan dengan seringnya kita mengeluh atau merasa selalu kurang (misalnya, "Duh gimana sih ini BBM pending mulu!" atau, "Lelet amat internetnya!"). Bisa juga karena kita kurang bisa memaksimalkan pemanfaatan fasilitas yang ada untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan sang orang tua (misalnya saat nilai kita jelek orang tua akan berkultum *kuliah tujuh jam XDDD* sebagai berikut, "Kamu itu uda dikasih fasilitas masih aja jelek nilainya! Sekolah/kuliah uda bisa naik motor/mobil/angkot, toko buku ada di mana-mana, banyak yang bisa download e-book juga, uda dikasi hp biar bisa janjian belajar sama teman-temanmu, masih kurang apalagi?"
Trust me, I've been there :D... 

Sedangkan pada jenis perbandingan ke dua adalah ketidakpuasan karena perubahan jaman telah "membinasakan" zona nyaman mereka. Masa kecil atau muda adalah waktu agresif dalam produktivitas dan belajar seseorang. Jika orang tua kita dulu terbiasa menikmati suasana asri dan kesenangan yang sederhana, mereka akan kebingungan dalam suasana gaduh dan tak bisa menikmati kompleksitas kesenangan jaman modern. Akhirnya muncul cerita-cerita romantisme masa lalu seperti di atas.

Yang mendasari romantisme ini adalah pola pikir (mindset/way of thinking) yang konservatif (conserve= mengawetkan, *contoh: konservasi hewan langka agar tidak punah) serta didukung kegagalan banyak orang tua dalam memahami secara komprehensif dan holistik mengenai fenomena modernitas dan globalisasi, yaitu jaman kita sekarang ini. Entah karena kesibukan, malas, atau tidak menyadari sama sekali karena kurangnya ilmu dan pengetahuan yang mumpuni terkait hal ini. Mindset konservatif ini mengakibatkan banyak orang tua gagal beradaptasi dengan kemudahan, kecepatan, dan kompleksitas era globalisasi.

1. Kita Harus Bersyukur Karena di Jaman Orang Tua Kita Tidak Tersedia  Kemudahan Seperti di Jaman Kita.
Kita akan fokus terlebih dahulu untuk membongkar jenis pertama. Akan kita bagi dalam 2 pembahasan, yaitu konteks harapan pencapaian standar target dan peringkat kompetitif. Pembahasan di bawah bersifat eksplanatif kasus-per kasus, jangan di-over generalisir untuk segala hal, kasus, situasi, dan kondisi. Kita bisa memanfaatkan pola berpikir dan kerangka analisa contoh-contoh di bawah untuk dimanfaatkan dalam menganalisa kasus lain. So, here we go...

A. Harapan Pencapaian Standar Target
Contoh romantisme orang tua dengan harapan pencapaian standar target adalah seperti di paragraf ke-3, "Kamu itu uda dikasih fasilitas masih aja jelek nilainya!" Harapan orang tua adalah kita punya pencapaian nilai yang baik sebagai standar targetnya. Oke, yang harus dipahami bersama adalah bahwa nilai jelek itu banyak faktornya. Bisa karena anaknya malas, tidak tertarik dengan pelajaran yang nilainya jelek, bisa juga karena hal-hal non-teknis seperti guru/dosen/sistem pengajaran yang bermasalah, atau kurangnya fasilitas penunjang agar si anak bisa mendapat nilai bagus. Kita akan fokus pada yang terakhir, yaitu kurangnya fasilitas penunjang (kalau nilai anda jelek karena faktor lain, ya jangan menyalahkan orang tua). Kita tidak memaknai kurangnya fasilitas dalam konteks seperti sekolahan daerah tertinggal, keadaan kaum fakir-miskin, dsb. Melainkan kita merasa kurang fasilitas walaupun pada dasarnya sudah tercukupi secara umum, sehingga kita sering mengeluh atau dianggap orang tua belum memaksimalkan fasilitas yang ada untuk mendapatkan nilai yang baik sesuai harapan mereka. Let's say, sudah tersedia buku-buku, laptop, hp, wifi atau warnet dekat rumah, dll. Jadi apa masalahnya?

Masalah pertama adalah, dengan lebih mudah dan cepatnya fasilitas untuk belajar, maka lebih mudah dan cepat pula fasilitas untuk bermain dan mendistraksi fokus kita dari belajar. Kalau orang jaman dulu belum ada lampu listrik untuk belajar, mereka juga tidak ada tv untuk ditonton. Kalau di jaman dulu sudah pasti ada anak yang nilainya juga jelek karena terlalu sering bermain layang-layang, gasing, bentengan, gobak sodor, petak umpet, berlarian di kebun dan hutan dsb., maka di jaman kita pasti ada anak yang nilainya jelek karena terlalu sering main game, sibuk twitter-fb-path-instagram-ask.fm, nonton serial korea, atau film hollywood, hang-out/clubbing, dsb. 

Masalah ke dua adalah perbedaan kurikulum dan kebutuhan kompetensi. Jaman sekarang kita dituntut untuk memenuhi standar kompetensi yang makin variatif. Sebenarnya ini wujud konspirasi dunia barat yang membutuhkan kita dari negara dunia ke-3 untuk memenuhi "kompetensi pekerja" dan bukan "leader atau inovator" yang butuh fokus pada suatu peminatan. Hal ini akan kita bahas lebih dalam pada posting "TALK MORE, DO MORE". Kurikulum di jaman saya menuntut seorang siswa dituntut untuk kompeten dalam matematika, IPA, (yang akan dipecah lagi menjadi Biologi, Kimia, dan Fisika), IPS (yang akan dipecah lagi menjadi geografi, sosiologi, sejarah, ekonomi), Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa asing pilihan (wajib memilih 1-2 bahasa asing tambahan seperti Mandarin, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dll.), pengoperasian komputer (TIK atau apapun namanya dan kurikulumnya yang selalu berubah-ubah tiap tahun karena perkembangan IT yang sangat cepat dan dinamis), Muatan lokal (bahasa daerah/minat-bakat), agama, Pendidikan kewarganegaraan, Olahraga, dll. sesuai kebijakan masing-masing sekolah. Sepertinya selalu kurang saja kompetensi kita, terlepas dari tanggung jawab yang begitu besar harus dipikul tempurung kepala seorang siswa di waktu yang sama. Melihat pola di masa lalu, kurikulum di masa depan akan lebih variatif dan kompleks lagi. Misalnya saja, angkatan saya baru mulai belajar Kimia di kelas 1 SMA. Sedangkan pada saat saya kelas 2 SMA, saya menyadari bahwa adik kelas saya yang baru masuk SMP kelas 1 sudah diajarkan Kimia. Lebih ekstrim, Orang tua kita dulu tidak diajarkan pengoperasian komputer di sekolah, sedangkan kita wajib khatam urusan Microsoft Word, Power Point, dan Excel, di samping operasional coding, internet, design, dll. Ringkasnya, bahwa kompetensi yang tertulis dengan angka "6" di rapor jaman dulu, tidak sama dengan kompetensi bernilai "6" di jaman sekarang. Semakin canggih fasilitasnya, semakin kompleks kompetensinya. Sayangnya, jaman dulu dan sekarang sama-sama diwakili oleh angka 1-10 atau abjad A-E. Terkecoh dengan simbol yang sama, orang tua sering tidak menyadari esensi yang jauh berbeda di dalamnya.

B. Harapan Pencapaian Peringkat Kompetitif
Hidup adalah kompetisi. Saya sepakat akan hal itu. Bahkan beberapa prinsip seperti Machiavellian memiliki banyak tuntunan yang lebih ekstrim dalam memahami persaingan kehidupan. Sistem "Reward and Punishment" adalah salah satu konsep manajerial yang memang efektif untuk membangkitkan semangat kompetitif dalam banyak hal, termasuk untuk orang tua dalam mengatur kehidupan anaknya. Ada yang bersifat materiil (hadiah dan hukuman), misalnya, "Kalo kamu ranking 1, mama beliin hp baru, kalo di bawah ranking 10, mama sita hp-nya satu semester." Ada yang bersifat non materiil (pujian dan cacian), misalnya saat kita ranking 1, "Anak papa pinter banget deh!" Atau saat kita ranking di bawah harapan orang tua, "Kamu ngapain aja selama ini kok dapat ranking segini? Tiru dong temenmu yang ranking 1 itu! Uda dibeliin laptop, buku, hp... Apa-apa dicukupin kok masih ranking segini?! Bikin malu nama orang tua aja, Papa aja dulu blablabla..." Trust me, I've been there :D... Hahahahahaha!!!

Kenapa ini terjadi? Itu karena  Mungkin ada juga yang pernah dengar yang satu ini, "Mama aja dulu selalu ranking 5 besar, padahal hidupnya prihatin. Masa' kamu uda dicukupin semua gak bisa masuk 5 besar?"

Alasan pertama sama dengan masalah pertama harapan pencapaian standar target. Yaitu dengan adanya fasilitas yang lebih canggih dan praktis untuk belajar, maka juga akan hadir fasilitas yang lebih canggih dan praktis untuk tidak belajar (entah bermain game konsol atau sibuk bermedia sosial, dll.).

Alasan kedua akan membahas khusus dalam konteks, "Mama aja dulu selalu ranking 5 besar, padahal hidupnya prihatin. Masa' kamu uda dicukupin semua gak bisa masuk 5 besar?". Atau, "Dulu papa lupa diri karena kakek pejabat kaya. Sekarang kita prihatin, kalau kamu gak ranking 5 besar mau jadi apa nanti? Nambahin beban orang tua aja." Apapun kondisi jaman orang tua kita dulu, kita dapat bebannya. Ada infidious comparison lagi di sini, kondisi prihatin vs. sederhana vs. berkelimpahan. Ini berkaitan dengan semangat dan motivasi masing-masing individu sesuai kepribadiannya. Untuk membahas kepribadian silakan baca posting saya selanjutnya yang berjudul, "WHAT MADE US: STILL MAKES ME, YOU, AND THEM".  Ada orang yang terpacu untuk giat dalam kondisi prihatin/kekurangan/kepepet dan malah lalai karena terlalu nyaman/lupa diri/keenakan dalam keberlimpahan. Ada tipe orang yang terpacu untuk tekun dalam kondisi berlimpah karena merasa usahanya berbuah hasil sekaligus menunjukkan rasa syukur atas perolehannya dan justru prustasi/putus asa berusaha karena tidak tabah dan lapang dada jika kekurangan. Ada pula orang yang ulet di masa jaya dan pantang menyerah pula di masa susah, tapi menjadi malas karena terlena dalam kondisi stagnansi atau santai pada beberapa kesempatan. Ada yang selalu mengeluh di segala kondisi, ada pula yang istiqomah/konsisten rajin di segala situasi. Ringkasnya, kondisi kita yang berlawanan dengan kondisi orang tua dahulu (entah ortu prihatin kita berlimpah, atau ortu berlimpah kita prihatin) tidak bisa begitu saja dijadikan alasan kegagalan dalam berkompetisi.

Alasan ke tiga adalah kegagalan orang tua dalam memahami bahwa para pesaing kita di kompetisi yang sama, punya fasilitas yang relatif serupa. Sehingga, tidak seujug-ujug dengan adanya hp, buku, laptop, internet, dll. akan membawa kita lebih unggul atas pesaing kita, terutama dalam konteks fasilitas. Kalau kita dibelikan laptop, teman-teman kita juga dibelikan laptop oleh orang tuanya. Kalau kita dibelikan android, teman-teman kita ada yang dibelikan android, iphone, bb, windows phone, dll. Mungkin beberapa anak hanya mampu dibelikan hp poliponik atau laptop second yang sudah cacat monitor dan keyboardnya sekaligus lemot luar biasa. Hal-hal seperti itu kita kembalikan pada urusan motivasi di alasan ke dua. Ringkasnya, kita berkompetisi melawan orang-orang yang memiliki fasilitas yang relatif setara, bukan bersaing melawan orang tua kita dengan kondisinya dahulu. Sehingga tidak relevan bila, "Dulu mama gak ada laptop, hp, dan internet bisa ranking 1, kamu ada laptop, hp, dan internet kok ranking 27?" Mungkin yang ranking 1-26 mamanya gak ranking 1... :p

2. Jaman Sekarang Tidak Senyaman Jaman Dulu Bagi Orang Tua Kita.
Kita akan coba bahas kasus per kasus. Menanggapi sebuah pernyataan, "Jaman Nenek dulu enak, masih banyak pohon, sawah, dan ladang di mana-mana. Sekarang semuanya macet, ribet, dan ribut... Bikin pusing!" Dalam konteks pembangunan, daerah yang dibentuk menjadi sebuah peradaban modern pastinya akan semakin banyak dihiasi bangunan-bangunan yang memakan lahan kosong dari tahun ke tahun. Ini sudah menjadi konsekuensi logis dalam setiap kemajuan peradaban. Karena citra estetika manusia sudah terbentuk di masa mudanya, maka daerah yang metropolitan dengan segala hiruk-pikuknya tidak akan bisa dinikmati oleh orang tua yang butuh ketenangan dan pandangan luas hamparan alam tanpa terhalang gedung-gedung dan kendaraan berlalu-lalang.

Menanggapi pernyataan lain, "Hp mama dulu simple, tinggal pencet tombol biasa kayak pesawat telepon, Ini android makenya gimana sih? Kok banyak bener gambarnya... Aduh! Ngetik kok di layar, uda kecil bikin salah pencet terus!" Pernahkah hal semacam ini terjadi pada orang tua anda? Terutama untuk hp, laptop, dan internet. Dalam konteks teknologi, peralatan akan semakin canggih dan kompleks dalam rangka mendukung kepraktisan,  kehandalan, dan kecepatan bagi penggunanya.

Resistensi dan penolakan macam ini disebut Cognitive Dissonance (Disonansi Kognitif). Sebuah teori psikologi oleh Leon Festinger yang merupakan bentuk stres mental dan ketidaknyamanan berlebih yang dialami oleh individu karena bertemunya/terkonfrontasi informasi dari dua atau lebih keyakinan, ide, atau nilai di saat yang sama. Termasuk individu yang mempraktekan suatu aksi-reaksi yang kontradiktif dengan keyakinannya. Kognitif berarti sesuatu yang berhubungan dengan teoritik/pengetahuan empirik (keyakinan, ide, nilai) dan disonansi dalam konteks ini berarti ketidakcocokan/ketidaksesuaian. Ingat, masa kecil dan muda adalah masa agresivitas beajar dan produktivitas. Nah, karena masa muda orang tua kita dulu (apalagi nenek-kakek), sekalipun tinggal di kota masih tidak serumit hari ini, maka umumnya mereka akan lebih senang dengan suasana pedesaan. Baik orang tua maupun muda akan sepakat bahwa alam yang asri adalah keindahan dan kota adalah modernitas. Tapi orang tua akan memilih untuk hidup tenang di desa daripada hidup dengan segala kekangan dan kompleksitas sistem di kota. Sedangkan yang muda akan lebih siap hidup di kota dengan segala kecanggihan, peluang-peluang penghasilan dan eksistensi yang ditawarkan, serta kepraktisannya daripada harus tinggal di desa.

Jika di kota kita bisa belanja 24 jam kapanpun kita mau di convenient store sebangsa Indomaret, Alfamart, Alfamidi, Circle K, dan 7-11. Kita bisa nonton bioskop, cafe, dan ke mal untuk hang out. Beberapa rumah punya dispenser untuk air panas instan. Didukung oleh banyaknya supplier dan distributor energi, seperti SPBU untuk BBM, LPG, dll. Mencari eksistensi dengan senantiasa meng-update FB, twitter, instagram, path, BBM, ask.fm, dll. dengan mengandalkan wifi atau sinyal operator untuk akses internet. Bagaimana kalau di desa? Kalau anda kehabisan suatu barang di malam hari, sangat jarang ada warung 24 jam di sana dan anda harus menunggu sampai pagi. Mau Hang out? Silakan memancing, berkebun, bermain layang-layang, atau "mbolang" di hutan sekitar. Mau masak besar atau sekedar masak air, sama-sama harus masak. Ingat, masih banyak rumah di desa menggunakan kompor tungku minyak tanah atau bahkan kayu bakar. Anda ingin eksistensi? Maaf, sinyal operator dan internet masih jarang yang masuk desa. Silakan berkumpul di Karang Taruna, alun-alun, balai desa, atau lapangan bermain setempat. Pemuda pada umumnya tidak akan siap dengan hal-hal itu, artinya kita pun mengalami disonansi kognitif. Ringkasnya, orang tua lebih berorientasi kepastian dan ketenangan, sedangkan pemuda berorientasi pencapaian, efektivitas, dan efisiensi walaupun harus menerjang resiko.

Suatu gadget bisa sangat mudah, praktis, cepat, jika kita memahami prosedur kerjanya. Kerumitan akan dialami orang yang baru hijrah untuk memulai pengoperasiannya. Hal ini butuh cukup banyak waktu, konsentrasi, dan pencarian informasi untuk bisa benar-benar memanfaatkan segala fitur suatu gadget. Misalnya saja saat anda baru mengganti hp biasa menjadi Blackberry, anda harus ngulik isi BB tersebut. Beberapa tahun kemudian anda mengganti BB anda dengan android/iphone, maka anda harus ngulik dari awal lagi. Orang tua tidak tertarik akn hal ini. Justru itu sangat lucu jika para pejabat difasilitasi oleh negara dengan hp/laptop dinas dengan harga yang mahal, padahal hanya bisa sms, telepon, chatting, ngetik word-power point, dan bermin game-game sederhana. Padahal spesifikasi gadget mereka cukup mumpuni untuk bermain game berat, design, recording, dll. yang sama sekali tidak mereka butuhkan.

Kembali dalam konteks orang tua. Yang menarik lagi adalah jika kita pada beberapa kesempatan pernah dimarahi karena terlalu lama bermain/mengutak-atik hp, laptop, dll., di kesempatan yang lain mereka minta tolong dalam mengoperasikan hp dan laptop mereka, entah untuk setting nada dering, pairing bluetooth, kirim email, operasi chatting dengan emoticon dan stickernya, mengetikkan mic. word, animasi power point, formula excell, minta diajarkan bermin game smartphone, dll. Guest What? Kita tidak akan bisa mengajari kalau kita tidak menghabiskan banyak waktu mengutak-atik (dengan konsekuensi dimarahi) hal-hal yang akhirnya membuat mereka minta tolong terhadap kita. hahahaha... just saying... those things happened :D

Mama: "Hapeee terus dipegang siang-malam... Kalau gak main game, chatting, ya online..."
Sometimes later...............
Mama: "Dek, ini mainnya gimana jalannya? Dek, caranya ngirim gambar ini gimana pake Line? Dek, nyari bahan di Google gimana caranya biar ketemu?

Don't get the wrong idea, I Love my parents! Dan tidak semua contoh di atas pernah saya alami secara pribadi, melainkan kompilasi dari berbagai kasus. Mungkin saya terdengar menyudutkan orang tua-orang tua kita semua. Namun yang perlu dipahami, saya hanya menegaskan sebuah pepatah yang berbunyi, "Yang muda (anak, keponakan, cucu) menghormati yang tua, yang tua (ortu, om-tante, eyang) menyayangi yang muda. Pembahasan di atas merupakan sedikit kritik atas tergerusnya rasa sayang orang tua terhadap anak dengan melakukan infidious comparison dalam bentuk romantisme masa lalu yang cukup membebani mental sang anak, hanya karena kegagalan memahami fenomena-fenomena yang kita bahas di atas. Wallahu'alam

Setelah membahas ini semua, apa yang kemudian harus dilakukan? Tergantung... Jika orang tua anda ripe yang terbuka/ekstrovert/open minded, silakan berdiskusi dengan mereka terkait wacana ini. Jika orang tua anda tertutup/introvert/short minded, KAMU SABARO.... Tetap senyum, ikhlas, dan lanjutkan hidupmu! (*Aku rapopo). Setidaknya kita sudah tahu bagaimana dan mengapa semua ini terjadi. Lalu bagaimana dengan peran anak yang harus menghormati orang tua? Akan kita bahas dalam posting saya slanjutnya yang berjudul "FAMILY FACE-OFF: Penjajahan Legal vs. Penjarahan Halal".

Semoga bermanfaat :)

*Kalau orang tua saya ada yang mengerti blogging, saya tidak akan menulis posting ini

Kamis, 31 Juli 2014

Bongkar Misteri HANTU! | Part 2

Setelah sebelumnya membahas epistemologi HANTU dari berbagai perspektif pada Part 1, Kini saatnya menjawab pertanyaan terpenting: "Apa hantu yang paling kita takuti? Sejak kapan kita takut dengan hantu? Kenapa kita takut?"

Pertama harus kita pilah dahulu lokus terhadap apa yang kita takuti. Terhadap hantunya, penampakannya, atau kerasukan? Terhadap subjek hantu, kita tidak sepatutnya takut. Takut hanyalah diperuntukkan terhadap Tuhan. Definisi hantu pada Part 1 adalah "makhluk gaib/halus yang secara sporadis tertangkap oleh indra manusia yang bersifat supranatural (supra/super=melampaui/melebihi, natural=*hukum alam) metafisis (meta=tidak terikat/melampaui, fisis=bersifat hukum fisika)". Apapun jenis hantu yang sudah kita bahas pada Part 1, mereka sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang bahkan derajatnya masih di bawah kita, karena manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna.

Kalau begitu apakah wajar kita takut akan penampakan dan kerasukan? Mari kita definisikan dahulu. Pada Part 1 dijelaskan bahwa penampakan hantu adalah "Penampakan metafisis menakutkan baik visual, pendengaran, sentuhan, tekanan dan suhu, maupun pikiran", sedangkan definisi kerasukan/kesurupan adalah "Kemasukan (roh jahat dsb)". Dalam kondisi-kondisi yang sudah dijelaskan barusan, wajarkah jika seorang manusia merasa takut? "Definisi takut yang saya anut adalah perasaan kala akan/sedang menghadapi atau dihantui akan perkara yang kita tak punya kuasa atasnya". Boleh jadi perkara itu berupa ancaman, penindasan, musibah, pertandingan, pertarungan, pertempuran, ketidaktentuan, bahkan penampakan, dan kerasukan. Takut sendiri merupakan satu dari beberapa tanggapan emosi yang menjadi mekanisme bertahan hidup. Tanpa rasa takut sama sekali, kita akan selalu mendekati bahaya tanpa pertimbangan yang pada waktunya bisa mati konyol. Gugurnya rasa takut karena perhitungan dan kemampuan disebut "Berani", sedangkan absennya rasa takut karena keacuhan disebut "Nekat". Dalam konteks menghadapi hantu, orang nekat justru cenderung menantang, memperolok, dan meremehkan hantu dalam berbagai situasi. Ini tidak dianjurkan, karena bagaimanapun kita harus tetap menghormati sesama makhuk Tuhan. Kalau sudah kena apesnya, justru orang-orang seperti ini yang akan ditakuti atau dirasuki hantu tersebut. Cukuplah kita mengais sejumput keberanian dalam menghadapi fenomena penampakan dan kerasukan agar tidak takut berlebihan (paranoid).

Dalam definisi takut di atas, frase "Kita tak punya kuasa atasnya" itulah yang akan saya jadikan diksi dalam pembahasan kita seterusnya. Sebuah analogi sederhana, kita tidak takut jika bertemu dengan Mike Tyson dalam keadaan sehari-hari. Ia hanya manusia biasa seperti kita, mungkin berpapasan di jalan atau duduk santai di tempat umum. Tapi bayangkan jika anda bertanding di atas ring melawan Mike Tyson! Segala sugesti dan memori akan tercuat tentang bagaimana ganasnya Tyson menghempaskan lawan-lawannya di atas ring. Kalau anda tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk setidaknya memiliki peluang dalam melawan Tyson, maka anda akan ketakutan karena tak punya kuasa atas sakitnya dihajar Tyson.

Begitu pula dengan hantu. Penampakan hantu yang aneh-aneh pada umumnya melampaui hukum fisika, kimia, dan biologi sekaligus. Sebut saja hantu mengambang, muncul dan menghilang, berpindah tanpa bergerak, manusia berbadan hewan, kepala terbang, dsb. Di sini terjadi efek ketakutan berkali lipat karena banyak variabel yang di luar kuasa manusia. Bagaimana saya bisa kabur dengan berlari sedangkan hantunya bisa terbang? Bagaimana saya bisa melawannya secara fisik kalo hantunya saja sudah berdarah-darah, ususnya ke mana-mana tapi masih bisa jalan? Kenapa hantunya mendatangi saya? Saya salah apa? Ada kualat, nantangin atau gimana? Saya mau disakiti macam apa? Apa badan saya mau dicabik-cabik kukunya? Apa punggung saya mau dibolongi seperti dia? Dan masih banyak lagi komplikasi perasaan takut yang terjadi jika kita melihat penampakan hantu.

Dalam menghadapi Tyson tadi, faktor ketakutan langsungnya sudah jelas, sakit dihajar Tyson. Selebihnya yang tidak langsung adalah efek pasca dihajar, yaitu beberapa kemungkinan yang masih bisa dianalisa secara medis, apakah saya sekedar pusing, pingsan, koma, atau mati? Rahang saya patah, pelipis saya sobek, atau gegar otak? Kalau anda seorang petarung, mungkin hal itu tidak masalah bagi anda, karena cedera dan sakit fisik adalah hal biasa, mati pun terhormat dan membanggakan dalam memberi perlawanan. Berbeda hal dengan non-petarung. Hidupnya tidak biasa kekerasan fisik, banyak capaian yang harus diraih di luar ring tinju sebelum dia mati dihajar Tyson yang dianggapnya tidak sepadan, maka ketakutannya akan menjadi berlipat ganda karena tidak rela harapannya tak tercapai akibat mati konyol.

Sedangkan dalam menghadapi penampakan hantu, faktor ketakutannya adalah ketidaktentuan. Hantu Apa? Mau apa dia? Saya harus lari ke mana? Kenapa ditampakkan, salah apa saya? Bagaimana menanggapinya, apakah lari, dilawan, dibaca-bacain? Ada satu fenomena menarik yang baru-baru ini terjadi masif di AS. Ada sesosok hantu baru dalam percakapan sehari-hari warga AS yang bernama Slenderman. Slenderman merupakan sosok jangkung bersetelan kantor dengan jas dan dasi. Rupanya datar alias muka rata/tidak berwajah. Ia tidak bergerak sama sekali, hanya berpindah tempat dalam sekejap (bukan bergeser, tapi pindah instan) dan selalu menampilkan figur yang sama, dingin dan diam. Tidak ada cakar, taring, tanduk, ekor, atau alat bawaannya yang berpotensi menyakiti. Lalu apanya yang membuat ia menakutkan? Sosok Slenderman ini memanfaatkan unsur "ketidaktentuan/ketidakpastian" dalam menakuti warga AS yang sudah sangat modern. Variabel modernitas yang perlu diperhatikan adalah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan sedemikian rupa hingga bisa menjelaskan hampir segala hal yang perlu diketahui keseharian manusia. Slenderman telah melanggar hukum Fisika karena tidak bergerak dalam perpindahannya, juga melanggar hukum biologi dengan tidak memiliki organ wajah/muka rata. Kalau anda dikejar sesuatu yang bahkan tidak bergerak, kemudian tiba-tiba sudah di hadapan anda dengan muka rata, anda mau apa? Di saat masyarakat yang selalu "pasti" dihadapkan dengan "ketidakpastian", di situlah pamungkasnya ketakutan.


Di sinilah pendekatan Materialisme-Dialektika-Historis diperlukan. Singkatnya, MDH adalah filsafat Karl Marx yang mengaitkan segala hal, baik fenomena alam maupun sosial, dengan interaksi (dialektika) materi berdasarkan runtutan sejarahnya (historis). Sebagaimana senjata penakut Slenderman adalah ketidakpastian, lalu mengapa harus berpakaian jas dan dasi? kenapa tidak kain putih atau kafan atau hanya terbalut selembar kain kusam ala gladiator? Di sinilah kemudian peran "akal" hantu bermain dalam menicptakan inovasi dan strategi politis-sosiologis. Yang ditakut-takuti sosok Slenderman adalah orang AS, baju kesehariannya di jalan kalau pulang kantor adalah jas dan dasi, bukan kain kusam ala gladiator atau tarzan. Kalau orang-orang Indonesia juga mengenal hantu muka rata, pastinya tidak berpakaian jas dan dasi, mungkin berbaju santai, atau berkain polos putih atau hitam.

Mari kita lakukan face off, komparasi bipolar yang akan sangat membuka mata kita semua. Pocong vs Drakula. Kenapa pocong lompat? Karena dibalut kain kafan. Kenapa dibalut kain kafan? Karena Orang kalau meninggal dikafanin, faktor determinan pemicu takutnya adalah "sosok mati hidup kembali". Di mana ada pocong? di Indonesia. Kenapa di Indonesia? Karena orang Indonesia yang mayoritas muslim, kalau meninggal dibungkus kafan. Mari kita lanjutkan dengan Drakula, kita permudah dengan sosok drakula versi umum yang menggunakan tuksedo, dasi kupu, dan pantovel. Kenapa drakula memakai tuksedo, dasi kupu, dan pantovel? Karena pada umumnya orang yang meninggal di barat akan dipakaikan tuksedo, dasi kupu, dan pantovel. Di mana ada drakula? di Barat. Kenapa di Barat? Karena di sana mayoritas Kristen, kalau meninggal didandani sebaik mungkin. Kenapa memakai tuksedo, dasi kupu, dan pantovel dianggap dandanan terbaik? Karena tuksedo, dasi kupu, dan pantovel adalah setelan yang secara umum dianggap paling formal dan elegan dalam konteks sosiologis barat. SEE??!

Jadi teman-teman, prinsip ini juga berlaku dengan jenis hantu-hantu lainnya. Kenapa Yasha di Jepang pakai kimono, kenapa Ashura di India yang mukanya jelek akan dikalahkan ksatria atau dewa yang gagah dan berparas tampan, Kenapa Dark Elves dikalahkan pasukan Thor dkk. dari Asgard di Skandinavia, Kenapa harus ada SETH di malam hari sebagai oposisi HORUS di siang hari dalam agama pagan Mesir, kenapa ada sosok Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong, dan segala sosok penghuni objek lainnya yang berusaha memperdaya masyarakat agar terjadi pengultusan pada sosok mereka di objek-objek yang dihuninya, dan masih banyak lagi. Di sinilah filsafat MDH sangat relevan penerapannya dalam membantu kerangka berpikir kita dalam mempelajari mitologi-mitologi dunia.

Ini semua tentang kontrol sosial. Tentang metode apa yang bisa digunakan oleh Iblis, Jin, Setan, yang muncul sebagai hantu-hantu tadi. Dengan memanfaatkan kemampuan mereka berubah wujud dan umur yang panjang sehingga bisa lebih lama mempelajari psikologi, sosiologi, antropologi, komunikasi, filsafat, dan politik di dunia manusia, target godaannya sepanjang masa. Sehingga mereka bisa melakukan penampakan atau kerasukan dengan sosok yang paling tepat di tempat dan waktu yang tepat pula. Ringkasnya, penampakan dan kerasukan banyak macamnya. Baik dalam penjelmaan sebagai sosok manusia, hewan, manusia setengah hewan, sosok hewan hibrid dengan anatomi hewan lainnya, monster, atau bermuslihat sebagai guru spiritual, nenek moyang, dll. Kesemuanya hanyalah tipu muslihat untuk menggelincirkan manusia, memindahkan rasa takut berlebih bukan pada tempatnya. Penampakan dan kerasukan HANTU hanyalah satu dari sekian masif tipu muslihat mereka terhadap manusia. Better aware and wake up :)

Mari kita mulai jawab pertanyaan-pertanyaan di awal posting ini. Apapun itu, hantu yang paling membuat kita takut justru adalah hantu yang paling mungkin muncul sebagai penampakan terhadap kita jika ada kesempatan, karena jin mengetahui faktor-faktor ketakutan kita sebagaimana yang digambarkan film "Monsters University". Ketakutan yang tepat akan menghebohkan seseorang hingga tersampaikan kepada orang-orang sekelilingnya, sampai nantinya cukup untuk membuahi embrio mitos-mitos hantu baru atau menguatkan mitos lama yang sudah ada. Sekali lagi setan berhasil menebar fitnah. Kapan  dan kenapa kita mulai takut? Kapanpun kita tidak memiliki kuasa atas apa yang akan kita hadapi. Bagaimana agar memiliki kuasa? Pelajari seluk-beluk perkaranya sedemikian rupa hingga kita merasa cukup mampu menanggulangi hal tersebut. Bagi yang belum, silakan mendalami misteri HANTU ini pada Part 1.

Penulis bukan berarti tidak pernah takut hantu sama sekali. Tapi benar-benar terasa perbedaannya saat kita bisa berpikir rasional dan lebih positif terkait semua hal, termasuk menanggapi fenomena yang kita bahas ini. Setidaknya saya tidak separanoid dulu. Semoga Tuhan selalu melindungi kita dari tipu daya dan godaan Setan. Amin.

Rabu, 30 Juli 2014

Bongkar misteri HANTU! | Part 1

Bingung tentang... Apa sih sebenarnya hantu? Hantu itu apakah jin, setan, atau iblis? Mereka sama gak sih? Kita akan kupas tuntas dari perspektif berbagai agama hingga ilmuwan sekuler. Bagi teman-teman yang gak sabar pengen pembahasan seru mengenai hantu, boleh langsung menuju ke Part 2. Tapi, yang butuh penjelasan lengkap saya sarankan untuk bersama-sama mengikuti diskusi di bawah ini karena kita akan membedah kesalahan persepsi dalam masyarakat tentang definisi tentang Hantu, Setan, Jin, dan Iblis. Semoga bermanfaat.

Definisi hantu menurut Kamus Besar bahasa Indonesia adalah “roh jahat (yang dianggap terdapat di tempat-tempat tertentu)”. Hantu dalam abjad bahasa Indonesia juga sering dikaitkan sebagai kebalikan suku kata dari Tuhan (Tu-Han,  Han-Tu) yang mengacu pada semiotika oposisi (melambangkan keterbalikan). Sering kali hantu disinonimkan dengan "setan", sebagaimana yang sering kita dengar dan baca pada kisah-kisah di masyarakat dan media. Di Indonesia khususnya, hantu dipersepsikan sebagai bentuk “penampakan metafisis menakutkan” apapun baik visual, pendengaran, sentuhan, tekanan dan suhu, maupun pikiran. Jika muncul entah hanya satu, sebagian, atau semua elemen di atas, maka orang awam tidak lagi membedakan hantu, setan, jin, atau iblis. Apalah itu gak penting, yang penting kabur lari dulu!!!

Pertama akan kita bedakan hantu, jin, dan setan, sekalian juga iblis. Keempatnya merupakan jenis makhluk halus/gaib seperti malaikat, yaitu makhluk gaib/halus yang secara sporadis tertangkap oleh indra manusia yang bersifat supranatural (supra/super=melampaui/melebihi, natural=*hukum alam) metafisis (meta=tidak terikat/melampaui, fisis=bersifat hukum fisika). Kita akan berfokus sejenak dalam membahas malaikat.

Malaikat merupakan makhluk gaib yang sering diasosiasikan dengan kebaikan dan kebenaran, karena peran dan tugasnya sebagai tangan Tuhan dalam banyak hal. Dalam ajaran Islam malaikat loyal absolut terhadap Allah serta tak memiliki nafsu. Malaikat memiliki akal, sesekali mereka mempertanyakan suatu perkara terhadap Allah, misalnya tentang penciptaan manusia pada Al-Baqarah: 30. Namun karena tidak memiliki nafsu, maka tidak berkeinginan terhadap Allah untuk menggunakan akalnya dalam rangka membangkang, menentang, ngeyel, improvisasi, inovasi, ngakalin, politik, seolah-olah, atau apapun bahasanya. Akalnya digunakan sepenuh-penuhnya dalam batas menuruti perintah Allah.

Sedangkan dalam agama Kristen dan Yahudi, malaikat bisa memberontak dan melawan perintah Allah hingga nantinya disebut "Fallen Angel" (Malaikat yang jatuh *derajatnya?). Ada beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa bahkan dalam Islam ada konsep seperti Kristen-Yahudi mengenai malaikat pemberontak yaitu Azazil/Azazel yang merupakan wujud awal Iblis sebelum ia menentang Allah bersujud terhadap Adam, hal ini terbantahkan dalam Al-Kahfi: 50 yang menyatakan bahwa Iblis adalah dari golongan Jin dan dalam An-Nahl: 50, Al-Anbiya: 26-28, dan At-Tahrim: 6 yang menegaskan bahwa malaikat selalu mematuhi Allah.

Fallen Angel inilah yang akhirnya dikenal sebagai “hantu/ghost” (terkecuali holy ghost/roh kudus) dalam terminologi Kristen dan Yahudi. Jika dalam Islam pemimpin kaum setan adalah “Iblis” dari golongan jin, dalam Kristen-Yahudi para petinggi hantu yang berjuluk "Devil Lord/Lord of Evil/Dark Lord” dikenal dengan banyak nama berdasarkan epistemologi dan personifikasi sifat masing-masing, seperti: Lucifer (sombong, Ultimate Summon Persona 4), Mammon (tamak), Asmodeus (nafsu), Leviathan (dengki, Summon Final Fantasy), Belphigor (malas), Satan (murka, Ultimate Summon Devil Survivor 2), Beelzebub (rakus, suka nyetrum Tatsumi Oga), Mephistophelis (musuhnya Ghost Rider), Arch Fiend, Serpent (membujuk Hawa memakan buah pengetahuan/kuldi dengan menyamar jadi ular), Belial (Bos pertama Devil May Cry 4), Old Nick, Astaroth (Karakter Soul Calibur), Diablo, dan masih banyak lagi. Bahkan Gabriel (Jibril) pun difiksikan turut menjadi “The Fallen” pada Film Keanu Reeves, "Constantine". (*Maaf ngrembet kemana-mana, hahahaha... yang bingung search aja sendiri trivialnya).

Konsep malaikat yang bisa memberontak ini hampir mirip dengan agama-agama terdhulu, sebut saja yang ada di Indonesia, Hindu dan Budha. Di mana malaikat bagaikan Dewa (sebagai representasi Sang Hyang Widhi) dan Jin bagaikan Ashura-Rakshasa (India)/Butho-Raksasa (Jawa). Beberapa dewa bisa jadi jahat dan beberapa Butho bisa jadi baik. Perbedaannya hanyalah dalam agama Hindu dan Budha, serta agama-agama pagan kuno seperti di Mesir, Yunani, Skandinavia, dan Roma, memunginkan adanya perkawinan silang antara dewa dengan butho (contoh Hindu: Batara Guru-Batara Durga), dewa dengan manusia (contoh Yunani: Zeus dengan mamanya Perseus "Wrath of Titans", mamanya Hercules, sampai mamanya Percy Jackson), serta butho dengan manusia (contoh Hindu: Bima dengan Arimbi punya anak Gatotkaca). Maka dalam agama-agama ini muncullah predikat demi-god (manusia setengah dewa), demi-human (jin/siluman setengah manusia). Islam, Kristen dan Yahudi (Agama Samawi/langitan yang dibawa Ibrahim) tidak mengenal hal tersebut. Hanya beberapa karya fiksi seperti game DMC yang mempropagandakan demi-human dalam bingkai Kristen-Yahudi (Sparda-Martha punya anak Dante dan Virgil, Nero gak tau anaknya siapa…).

Yang harus dipahami adalah bahwa definisi KBBI pada paragraf pertama tadi mungkin berlaku dominan dalam konteks "roh jahat" walaupun ada khususon pada beberapa kasus. Dunia fiksi mengenal "hantu baik" seperti Casper, misalnya. Ada juga beberapa kartun lain seperti 3 Little Ghosts: Bumper, Cutter, & Sally, dalam serial Manga Hikaru No Go ada tokoh Shusaku Honinbo, dan masih banyak lagi. Selain bertujuan sebagai propaganda agar anak-anak tidak takut hantu, sebenarnya kisah-kisah tadi tidak sepenuhnya fiksi, yang artinya juga terinspirasi dari kisah-kisah "hantu baik" yang beredar di masyarakat sekitar mereka. Pernah dengar cerita hantu baik? Biasanya semacam hantu yang mengingatkan orang secara halus agar tidak meampaui batas akan suatu perbuatan atau hantu yang menemani perjalanan/kehidupan seseorang sehari-hari. Kesimpulannya: kalau memang ada hantu baik, hantu jenis ini tidak perlu ditakuti (yaeyalah keleus!!!).

Kembali serius pada konteks “roh jahat”. "Penampakan hantu sebagaimana dipersepsikan sebagai penampakan metafisis menakutkan baik visual, pendengaran, sentuhan, tekanan dan suhu, maupun pikiran", masih memiliki banyak varian pendekatan dalam hipotesanya. Malaikat juga melakukan penampakan, tetapi tidak menakutkan. Kalaupun Nabi Muhammad ketakutan saat disuruh membaca ayat pertamanya di Gua Hira, itu karena intimidasi dan dekapan Jibril bagaikan guru atau dosen “killer” nyuruh baca murid yang buta huruf. Yang serem metodenya, bukan penampakannya.

Pendekatan pertama adalah versi kaum awam. Mereka menganggap apa saja dari golongan makhluk halus, baik setan, jin, iblis, hingga roh manusia yang telah meninggal dan melakukan penampakan, maka itulah "hantu". Ada beberapa hal yang harus diluruskan di sini, sekaligus kita akan memasuki versi ke dua, yaitu pendekatan kritis.

Kata “setan” dalam bahasa Indonesia sendiri memiliki makna yang sudah terdistorsi. Jika diambil dari bahasa arab “syaithan” yang dipakai pada Qur’an, maknanya bukanlah makhluk halus/roh jahat yang menakut-nakuti sebagaimana yang biasa kita dengar. Melainkan lebih terhadap “sifat”, apapun yang buruk kemudian tergolong sebagai syaithan. Singkatnya, kalau manusia atau jin itu berbuat kejahatan, maka ia disebut setan. Pembahasan kenapa Setan bukan hantu versi Al-Qur’an, tunggu posting selanjutnya :).

Dalam konteks Yahudi-Kristen, Satan dan setan adalah hal yang berbeda. Setan dalam bahasa Inggris disebut Demon/Devil. Sedangkan Satan diambil dari bahasa ibrani “Satan” sebagaimana bahasa Inggris menyerapnya secara langsung tetap menjadi “Satan”. Satan, sebagaimana Iblis merupakan nama 1 subjek/orang (bukan segolongan) yang termasuk “petinggi” dalam strata Demon-Devil/Djin-Genie. Nama Satan ini  merepresentasikan murka/wrath. “Makhluk roh yang pertama dan yang paling tercela menjadi Satan.” (Yohannes 8:44). Istilah Satan sering kita dengar dalam Satan Worshippers/Luciferian terkait dengan pemujaan Iblis yang nantinya akan dipimpin oleh Dajjal/Anti-Christ. Kalaupun Satan melakukan penampakan, gak akan yang gampangan kayak di film-film horor Indonesia.

Kemudian tentang roh manusia. Menurut Islam, jika sudah memasuki alam kubur, yang baik akan mencicipi trailer surga (dideskripsikan salah satu H.R. Ahmad), yang jahat disiksa dengan penjara bawah tanah berdinding panas (Al-Mu’minun: 99-100, Ar-Rum: 56). Tidak ada konsep arwah penasaran dalam Islam, tidak ada kemampuan atau izin Allah bagi arwah yang telah meninggal untuk kembali ke dunia.

Sedangkan Kristen sebaliknya, Injil menyebut roh gentayangan (Luk 8:31-33, Wah 20:11-15) juga sebagai roh kotor (unclean spirit) (Mat 10:1, Luk 9:42). Tidak ada keterangan pasti mengenai kemampuan roh untuk “menampakkan diri”. Namun dijelaskan bahwa roh gentayangan dapat merasuki manusia (Mar 5:9, Mat 12:43, Luk 6:18, Im 20:27), dapat dipanggil (Im 20:6, 2 Raja 21:6, Yes 8:19, UI 18:11), dan butuh makanan (1 Kor 10:20, Maz 106:28).

Bagi Hindu-Budha, fase roh gentayangan yang diartikan dapat berkeliaran, menampakkan diri, dsb. tidaklah ada. Makhluk yang mati akan segera bereinkarnasi sesuai karma hidupnya, atau menuju Nibbana/Nirvana sebagai Budha jika telah mencapai kesempurnaan. (ada thread reccomended abis: fakta menarik dalam budhisme).

Masuk ke pembahasan tentang Jin. Menurut Kristen dalam Injil-Injil khusus yang berbahasa Indonesia (Im 17:7, Taw 11:15) kata “Jin” diambil dari bahasa Ibrani “Sa’iyr” yang merujuk pada sesembahan jaman pagan, salah satu dewa berhala (idol) berwujud kambing jantan. Dalam Injil-Injil berbahasa Inggris mereka menyebutnya langsung sebagai "goat idol". Terminologi Jin dalam Injil Indonesia yang berarti berhala kambing, berbeda konteks dengan noun bahasa inggris Djin-Genie (Jin-Jinny) yang merujuk jin versi Islam.

Dalam Islam, jin adalah makhluk halus berakal ciptaan Allah yang diciptakan dari api yang sangat panas sebelum diciptakannya Adam (Ali-Hijr: 27, Ar-Rahman: 15). Jin memiliki jenis kelamin. Djin/Jin berarti laki-laki, sedangkan Genie/Jinny berarti perempuan. Karena berakal dan juga memiliki nafsu, jin bisa memilih untuk baik atau jahat seperti manusia (Jin: 14), hanya bedanya mereka metafisis. Beberapa pendapat menyatakan bahwa jin mampu merasuki tubuh manusia. Misalnya dalam dalam ta’wil/interpretasi berikut, “Sesungguhnya setan (jin) beredar di dalam diri manusia seperti aliran darah” (H.R. Bukhari-Muslim). Bisa juga jika setan (tanpa tanda kurung “jin”) berarti hawa nafsu manusia-lah yang beredar seperti aliran darah dan berpotensi membawa kita bersifat buruk dan menjadi setan, Wallahualam.

Tapi bagaimana dengan penampakan? Menurut Al-A’raf: 27, Manusia tidak mungkin bisa melihat jin dalam bentuk aslinya, kecuali Nabi dan Rasul. Namun banyak riwayat yang menegaskan bahwa jin bisa berubah wujud menjadi manusia atau hewan. Tidak ada pula pernah disebutkan batasannya, kecuali menjelma sebagai Nabi Muhammad SAW. Artinya, mungkin saja si jin menjelma jadi pocong, kuntilanak, gendruwo, drakula, Edward Cullen, manusia berbadan ular, singa bersayap, godzilla buntut lele, dkk. Hal ini juga menegaskan bahwa dalam pandangan Islam jika ada fenomena munculnya arwah penasaran, entah karena mati dimutilasi, anak haram dibuang, dibunuh setelah diperkosa, atau menyamar sebagai nenek moyang seseorang, maka mereka adalah dari golongan jin yang menjelma.

Terakhir adalah pendekatan Ilmiah sekuler. Ilmuwan menyatakan bahwa penampakan dan kerasukan tidak lain hanyalah halusinasi berkat faktor halusinogen yang kuat. Entah sugesti yang sangat kuat dan berkesinambungan dalam waktu tertentu, trauma, narkoba, hipnotis/self-hipnotis, tekanan hidup, kekacauan, dsb. Dalam bahasa kejiwaan, kerasukan disebut sebagai Folie a deux (search aja). Menurut deskripsinya, Folie a deux sekaligus menggagalkan definisi dari KBBI tentang kerasukan/kesurupan, yaitu "Kemasukan (roh jahat dsb)". Sedangkan penampakan hanyalah ilusi yang terjadi karena gelombang otak berada dalam frekuensi tertentu. Hal ini dipicu juga oleh faktor-faktor penyebab kerasukan dan faktor lingkungan. Intinya, menurut ilmuwan, kerasukan dan penampakan hanyalah gejala otak manusia, tanpa melihat variabel keberadaan makhluk halus. Penelitian ilmuwan lengkap baca di sini.

Bagaimana dengan hantu yang tertangkap kamera? dikutip dari Livescience (29/01), ternyata tidak sedikit dari para ilmuwan yang justru mengatakan bahwa hantu itu tidak ada. Apa yang dinamakan hantu tersebut hanyalah energi terakhir dari manusia ketika dia mati. Entah kita mau bilang itu murni hantu sebagai makhluk halus yang metafisis, entah itu hanya ampas/residu energi manusia yang sudah mati, atau kita mau bilang bahwa hantu itu energi?

Dalam Islam ada konsep yang relevan dengan kasus di atas adalah jin dari golongan Qorin.Singkatnya, Jin Qorin adalah golongan jin yang diutus Allah untuk menjadi pendamping manusia. Seorang manusia pasti didampingi seorang jin Qorin. Merekalah (tiap orang dengan masing-masing Qorinnya) yang selalu konsisten dalam membisikkan untuk mendorong perbuatan jahat, dosa, dan munkar, hanya Qorin dari golongan nabi-rasul dan orang-orang yang sangat saleh hingga Qarinnya membisikkan hal-hal baik. Bisikan Qarin yang sangat kuat dapat menjadi sugesti yang tampak begitu nyata. Hal ini sebagaimana diilustrasikan pada karakter Green Goblin dalam dialog Norman Osborn dengan Qorinnya dalam pantulan cermin yang memancingnya untuk memafaatkan kekuatan Green Goblin untuk berbuat jahat pada film "Spiderman". Beberapa teori menghubungkannya dengan Alter-Ego, Alias, atau Persona. Kalaupun seseorang punya lebih dari 2 kepribadian, bukan berarti Qorinnya ada banyak. Melainkan si Qorin membisikkan sugesti yang begitu kuat pada alam bawah sadar seseorang hingga ia punya banyak kepribadian, yang biasanya memancing permasalahan dengan caranya masing-masing. Di saat seseorang meninggal, Qarinnya terus hidup hingga hari kiamat. Maka Qarin inilah yang dianggap sebagai energi orang yang sudah meninggal, karena ia akan mewujudkan tampak dan perilaku yang mirip dengan manusia yang didampinginya selama hidup. Untuk pembahasan lebih dalam silakan baca: "BEDA BISIKAN DAN KEMAMPUAN JIN QARIN DENGAN JIN BUKAN QARIN".

Itu dia breakdown tentang HANTU buat kita-kita… Hantu, Setan, Jin, Iblis punya pengertia sendiri-sendiri tergantung dari perspektif mana anda melihat. Kesimpulannya adalah bahwa gejala atau fenomena kerasukan dan penampakan itu memanglah ada, entah apa atau siapa faktornya, anda bisa telaah sendiri. Sedikit berpikir rasional dan positif tentang bagaimana hantu bisa muncul, bener-bener membantu meredakan ketakutan berlebih :) "Trust me, It helps your courage even just a little bit!"

Terus, kenapa di Indonesia hantu yang muncul pocong dan di barat yang muncul drakula???? Kenapa hantu Indo pake kafan dan drakula pake tuksedo? Kita ketemu di Part 2!