Kamis, 31 Juli 2014

Bongkar Misteri HANTU! | Part 2

Setelah sebelumnya membahas epistemologi HANTU dari berbagai perspektif pada Part 1, Kini saatnya menjawab pertanyaan terpenting: "Apa hantu yang paling kita takuti? Sejak kapan kita takut dengan hantu? Kenapa kita takut?"

Pertama harus kita pilah dahulu lokus terhadap apa yang kita takuti. Terhadap hantunya, penampakannya, atau kerasukan? Terhadap subjek hantu, kita tidak sepatutnya takut. Takut hanyalah diperuntukkan terhadap Tuhan. Definisi hantu pada Part 1 adalah "makhluk gaib/halus yang secara sporadis tertangkap oleh indra manusia yang bersifat supranatural (supra/super=melampaui/melebihi, natural=*hukum alam) metafisis (meta=tidak terikat/melampaui, fisis=bersifat hukum fisika)". Apapun jenis hantu yang sudah kita bahas pada Part 1, mereka sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang bahkan derajatnya masih di bawah kita, karena manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna.

Kalau begitu apakah wajar kita takut akan penampakan dan kerasukan? Mari kita definisikan dahulu. Pada Part 1 dijelaskan bahwa penampakan hantu adalah "Penampakan metafisis menakutkan baik visual, pendengaran, sentuhan, tekanan dan suhu, maupun pikiran", sedangkan definisi kerasukan/kesurupan adalah "Kemasukan (roh jahat dsb)". Dalam kondisi-kondisi yang sudah dijelaskan barusan, wajarkah jika seorang manusia merasa takut? "Definisi takut yang saya anut adalah perasaan kala akan/sedang menghadapi atau dihantui akan perkara yang kita tak punya kuasa atasnya". Boleh jadi perkara itu berupa ancaman, penindasan, musibah, pertandingan, pertarungan, pertempuran, ketidaktentuan, bahkan penampakan, dan kerasukan. Takut sendiri merupakan satu dari beberapa tanggapan emosi yang menjadi mekanisme bertahan hidup. Tanpa rasa takut sama sekali, kita akan selalu mendekati bahaya tanpa pertimbangan yang pada waktunya bisa mati konyol. Gugurnya rasa takut karena perhitungan dan kemampuan disebut "Berani", sedangkan absennya rasa takut karena keacuhan disebut "Nekat". Dalam konteks menghadapi hantu, orang nekat justru cenderung menantang, memperolok, dan meremehkan hantu dalam berbagai situasi. Ini tidak dianjurkan, karena bagaimanapun kita harus tetap menghormati sesama makhuk Tuhan. Kalau sudah kena apesnya, justru orang-orang seperti ini yang akan ditakuti atau dirasuki hantu tersebut. Cukuplah kita mengais sejumput keberanian dalam menghadapi fenomena penampakan dan kerasukan agar tidak takut berlebihan (paranoid).

Dalam definisi takut di atas, frase "Kita tak punya kuasa atasnya" itulah yang akan saya jadikan diksi dalam pembahasan kita seterusnya. Sebuah analogi sederhana, kita tidak takut jika bertemu dengan Mike Tyson dalam keadaan sehari-hari. Ia hanya manusia biasa seperti kita, mungkin berpapasan di jalan atau duduk santai di tempat umum. Tapi bayangkan jika anda bertanding di atas ring melawan Mike Tyson! Segala sugesti dan memori akan tercuat tentang bagaimana ganasnya Tyson menghempaskan lawan-lawannya di atas ring. Kalau anda tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk setidaknya memiliki peluang dalam melawan Tyson, maka anda akan ketakutan karena tak punya kuasa atas sakitnya dihajar Tyson.

Begitu pula dengan hantu. Penampakan hantu yang aneh-aneh pada umumnya melampaui hukum fisika, kimia, dan biologi sekaligus. Sebut saja hantu mengambang, muncul dan menghilang, berpindah tanpa bergerak, manusia berbadan hewan, kepala terbang, dsb. Di sini terjadi efek ketakutan berkali lipat karena banyak variabel yang di luar kuasa manusia. Bagaimana saya bisa kabur dengan berlari sedangkan hantunya bisa terbang? Bagaimana saya bisa melawannya secara fisik kalo hantunya saja sudah berdarah-darah, ususnya ke mana-mana tapi masih bisa jalan? Kenapa hantunya mendatangi saya? Saya salah apa? Ada kualat, nantangin atau gimana? Saya mau disakiti macam apa? Apa badan saya mau dicabik-cabik kukunya? Apa punggung saya mau dibolongi seperti dia? Dan masih banyak lagi komplikasi perasaan takut yang terjadi jika kita melihat penampakan hantu.

Dalam menghadapi Tyson tadi, faktor ketakutan langsungnya sudah jelas, sakit dihajar Tyson. Selebihnya yang tidak langsung adalah efek pasca dihajar, yaitu beberapa kemungkinan yang masih bisa dianalisa secara medis, apakah saya sekedar pusing, pingsan, koma, atau mati? Rahang saya patah, pelipis saya sobek, atau gegar otak? Kalau anda seorang petarung, mungkin hal itu tidak masalah bagi anda, karena cedera dan sakit fisik adalah hal biasa, mati pun terhormat dan membanggakan dalam memberi perlawanan. Berbeda hal dengan non-petarung. Hidupnya tidak biasa kekerasan fisik, banyak capaian yang harus diraih di luar ring tinju sebelum dia mati dihajar Tyson yang dianggapnya tidak sepadan, maka ketakutannya akan menjadi berlipat ganda karena tidak rela harapannya tak tercapai akibat mati konyol.

Sedangkan dalam menghadapi penampakan hantu, faktor ketakutannya adalah ketidaktentuan. Hantu Apa? Mau apa dia? Saya harus lari ke mana? Kenapa ditampakkan, salah apa saya? Bagaimana menanggapinya, apakah lari, dilawan, dibaca-bacain? Ada satu fenomena menarik yang baru-baru ini terjadi masif di AS. Ada sesosok hantu baru dalam percakapan sehari-hari warga AS yang bernama Slenderman. Slenderman merupakan sosok jangkung bersetelan kantor dengan jas dan dasi. Rupanya datar alias muka rata/tidak berwajah. Ia tidak bergerak sama sekali, hanya berpindah tempat dalam sekejap (bukan bergeser, tapi pindah instan) dan selalu menampilkan figur yang sama, dingin dan diam. Tidak ada cakar, taring, tanduk, ekor, atau alat bawaannya yang berpotensi menyakiti. Lalu apanya yang membuat ia menakutkan? Sosok Slenderman ini memanfaatkan unsur "ketidaktentuan/ketidakpastian" dalam menakuti warga AS yang sudah sangat modern. Variabel modernitas yang perlu diperhatikan adalah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan sedemikian rupa hingga bisa menjelaskan hampir segala hal yang perlu diketahui keseharian manusia. Slenderman telah melanggar hukum Fisika karena tidak bergerak dalam perpindahannya, juga melanggar hukum biologi dengan tidak memiliki organ wajah/muka rata. Kalau anda dikejar sesuatu yang bahkan tidak bergerak, kemudian tiba-tiba sudah di hadapan anda dengan muka rata, anda mau apa? Di saat masyarakat yang selalu "pasti" dihadapkan dengan "ketidakpastian", di situlah pamungkasnya ketakutan.


Di sinilah pendekatan Materialisme-Dialektika-Historis diperlukan. Singkatnya, MDH adalah filsafat Karl Marx yang mengaitkan segala hal, baik fenomena alam maupun sosial, dengan interaksi (dialektika) materi berdasarkan runtutan sejarahnya (historis). Sebagaimana senjata penakut Slenderman adalah ketidakpastian, lalu mengapa harus berpakaian jas dan dasi? kenapa tidak kain putih atau kafan atau hanya terbalut selembar kain kusam ala gladiator? Di sinilah kemudian peran "akal" hantu bermain dalam menicptakan inovasi dan strategi politis-sosiologis. Yang ditakut-takuti sosok Slenderman adalah orang AS, baju kesehariannya di jalan kalau pulang kantor adalah jas dan dasi, bukan kain kusam ala gladiator atau tarzan. Kalau orang-orang Indonesia juga mengenal hantu muka rata, pastinya tidak berpakaian jas dan dasi, mungkin berbaju santai, atau berkain polos putih atau hitam.

Mari kita lakukan face off, komparasi bipolar yang akan sangat membuka mata kita semua. Pocong vs Drakula. Kenapa pocong lompat? Karena dibalut kain kafan. Kenapa dibalut kain kafan? Karena Orang kalau meninggal dikafanin, faktor determinan pemicu takutnya adalah "sosok mati hidup kembali". Di mana ada pocong? di Indonesia. Kenapa di Indonesia? Karena orang Indonesia yang mayoritas muslim, kalau meninggal dibungkus kafan. Mari kita lanjutkan dengan Drakula, kita permudah dengan sosok drakula versi umum yang menggunakan tuksedo, dasi kupu, dan pantovel. Kenapa drakula memakai tuksedo, dasi kupu, dan pantovel? Karena pada umumnya orang yang meninggal di barat akan dipakaikan tuksedo, dasi kupu, dan pantovel. Di mana ada drakula? di Barat. Kenapa di Barat? Karena di sana mayoritas Kristen, kalau meninggal didandani sebaik mungkin. Kenapa memakai tuksedo, dasi kupu, dan pantovel dianggap dandanan terbaik? Karena tuksedo, dasi kupu, dan pantovel adalah setelan yang secara umum dianggap paling formal dan elegan dalam konteks sosiologis barat. SEE??!

Jadi teman-teman, prinsip ini juga berlaku dengan jenis hantu-hantu lainnya. Kenapa Yasha di Jepang pakai kimono, kenapa Ashura di India yang mukanya jelek akan dikalahkan ksatria atau dewa yang gagah dan berparas tampan, Kenapa Dark Elves dikalahkan pasukan Thor dkk. dari Asgard di Skandinavia, Kenapa harus ada SETH di malam hari sebagai oposisi HORUS di siang hari dalam agama pagan Mesir, kenapa ada sosok Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong, dan segala sosok penghuni objek lainnya yang berusaha memperdaya masyarakat agar terjadi pengultusan pada sosok mereka di objek-objek yang dihuninya, dan masih banyak lagi. Di sinilah filsafat MDH sangat relevan penerapannya dalam membantu kerangka berpikir kita dalam mempelajari mitologi-mitologi dunia.

Ini semua tentang kontrol sosial. Tentang metode apa yang bisa digunakan oleh Iblis, Jin, Setan, yang muncul sebagai hantu-hantu tadi. Dengan memanfaatkan kemampuan mereka berubah wujud dan umur yang panjang sehingga bisa lebih lama mempelajari psikologi, sosiologi, antropologi, komunikasi, filsafat, dan politik di dunia manusia, target godaannya sepanjang masa. Sehingga mereka bisa melakukan penampakan atau kerasukan dengan sosok yang paling tepat di tempat dan waktu yang tepat pula. Ringkasnya, penampakan dan kerasukan banyak macamnya. Baik dalam penjelmaan sebagai sosok manusia, hewan, manusia setengah hewan, sosok hewan hibrid dengan anatomi hewan lainnya, monster, atau bermuslihat sebagai guru spiritual, nenek moyang, dll. Kesemuanya hanyalah tipu muslihat untuk menggelincirkan manusia, memindahkan rasa takut berlebih bukan pada tempatnya. Penampakan dan kerasukan HANTU hanyalah satu dari sekian masif tipu muslihat mereka terhadap manusia. Better aware and wake up :)

Mari kita mulai jawab pertanyaan-pertanyaan di awal posting ini. Apapun itu, hantu yang paling membuat kita takut justru adalah hantu yang paling mungkin muncul sebagai penampakan terhadap kita jika ada kesempatan, karena jin mengetahui faktor-faktor ketakutan kita sebagaimana yang digambarkan film "Monsters University". Ketakutan yang tepat akan menghebohkan seseorang hingga tersampaikan kepada orang-orang sekelilingnya, sampai nantinya cukup untuk membuahi embrio mitos-mitos hantu baru atau menguatkan mitos lama yang sudah ada. Sekali lagi setan berhasil menebar fitnah. Kapan  dan kenapa kita mulai takut? Kapanpun kita tidak memiliki kuasa atas apa yang akan kita hadapi. Bagaimana agar memiliki kuasa? Pelajari seluk-beluk perkaranya sedemikian rupa hingga kita merasa cukup mampu menanggulangi hal tersebut. Bagi yang belum, silakan mendalami misteri HANTU ini pada Part 1.

Penulis bukan berarti tidak pernah takut hantu sama sekali. Tapi benar-benar terasa perbedaannya saat kita bisa berpikir rasional dan lebih positif terkait semua hal, termasuk menanggapi fenomena yang kita bahas ini. Setidaknya saya tidak separanoid dulu. Semoga Tuhan selalu melindungi kita dari tipu daya dan godaan Setan. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar